Bangka Belitung – Perkembangan teknologi informasi telah mengubah pola penyebaran paham radikal yang kini semakin banyak memanfaatkan ruang digital sebagai medium propaganda. Kondisi tersebut mendorong perlunya penguatan wawasan kebangsaan di lingkungan perguruan tinggi agar mahasiswa mampu menjadi benteng ideologi sekaligus agen perdamaian di tengah masyarakat.
Semangat itulah yang diusung Satgaswil Kepulauan Bangka Belitung Densus 88 AT Polri melalui kegiatan Sosialisasi Wawasan Kebangsaan dalam rangkaian Pekan Olahraga Mahasiswa (POM) 2026 di IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung, Sabtu (6/6).
Di hadapan ratusan mahasiswa, narasumber dari Densus 88 menjelaskan bahwa Indonesia berhasil mempertahankan kondisi nihil serangan teror atau zero attack dalam beberapa tahun terakhir. Keberhasilan tersebut dinilai sebagai hasil kolaborasi antara aparat keamanan, pemerintah, lembaga pendidikan, tokoh masyarakat, dan partisipasi aktif warga dalam menjaga stabilitas nasional.
Namun di balik capaian tersebut, tantangan baru terus berkembang. Penyebaran paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme kini lebih banyak bergerak melalui media sosial, forum digital, hingga komunitas daring yang menyasar generasi muda.
Mahasiswa diberikan gambaran mengenai cara kelompok ekstrem memanfaatkan konten digital untuk membangun simpati, membentuk identitas kelompok, hingga mengangkat pelaku aksi kekerasan sebagai figur yang dikagumi. Pola seperti ini dinilai berpotensi memengaruhi cara berpikir anak muda apabila tidak diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis dan literasi digital yang memadai.
Dalam pemaparannya, Densus 88 juga mengingatkan bahwa ancaman radikalisasi tidak lagi mengenal batas wilayah. Jaringan propaganda dapat melintasi negara dan menjangkau siapa saja melalui perangkat digital yang digunakan setiap hari.
Karena itu, penguatan nilai-nilai Pancasila, toleransi, kebinekaan, dan wawasan kebangsaan menjadi aspek penting dalam membangun ketahanan ideologi generasi muda.
Selain membahas ancaman radikalisme, peserta diajak memahami pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman serta mengembangkan budaya dialog yang sehat dalam kehidupan kampus. Mahasiswa diharapkan mampu menjadi penyebar narasi damai sekaligus menolak segala bentuk ajakan yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan konstitusi negara.
Densus 88 juga menekankan pentingnya sinergi berbagai pihak dalam upaya pencegahan, termasuk melalui penguatan literasi digital dan kebijakan yang dapat meminimalkan paparan konten negatif di lingkungan pendidikan.
Perguruan tinggi dipandang memiliki posisi strategis dalam membentuk karakter intelektual sekaligus moral generasi muda. Oleh sebab itu, ruang akademik harus menjadi tempat tumbuhnya sikap kritis, terbuka terhadap perbedaan, dan berorientasi pada penyelesaian persoalan melalui dialog, bukan kekerasan.
Melalui sosialisasi ini, diharapkan mahasiswa IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga ketangguhan ideologis untuk menghadapi berbagai tantangan di era digital. Dengan bekal tersebut, generasi muda diharapkan mampu menjadi penggerak persatuan dan penjaga nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.































































