Jakarta – Pergantian kepemimpinan di Badan Gizi Nasional (BGN) menjadi momentum untuk melakukan pembenahan menyeluruh terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Alih-alih mengejar perluasan secara masif, kepemimpinan baru memilih memprioritaskan efisiensi anggaran, peningkatan kualitas layanan, dan ketepatan sasaran penerima manfaat.
Kepala BGN yang baru dilantik Presiden Prabowo Subianto, Nanik Sudaryati Deyang, menegaskan bahwa lembaga yang dipimpinnya akan mengedepankan tata kelola yang lebih hati-hati dengan dukungan dua wakil kepala yang memiliki tugas berbeda.
Agustina Arumsari akan mengawal aspek pengelolaan keuangan agar setiap kebijakan berjalan sesuai prinsip akuntabilitas, sementara Trenggono bertanggung jawab memperkuat pelaksanaan program di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) yang selama ini menghadapi tantangan akses layanan gizi.
Nanik menegaskan bahwa efisiensi anggaran menjadi prioritas utama tanpa mengurangi tujuan besar program, yakni meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya anak-anak yang membutuhkan intervensi.
Menurutnya, penghematan dilakukan melalui berbagai langkah strategis, salah satunya dengan menghentikan sementara pembukaan titik layanan dan dapur baru. Kebijakan tersebut diambil agar pemerintah dapat lebih fokus membenahi dapur yang telah beroperasi sebelum melakukan ekspansi lebih lanjut.
Saat ini, ribuan dapur MBG telah berjalan di berbagai daerah dan akan menjadi objek evaluasi menyeluruh untuk memastikan pelayanan sesuai standar operasional yang ditetapkan.
Selain itu, BGN juga akan melakukan penataan ulang kelompok penerima manfaat. Program MBG diarahkan lebih fokus kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan dukungan pemenuhan gizi, sehingga intervensi pemerintah dapat memberikan dampak yang lebih optimal.
Pendekatan tersebut dinilai penting agar alokasi anggaran negara digunakan secara lebih efektif dan mampu menjangkau kelompok rentan yang memiliki keterbatasan akses terhadap makanan bergizi.
Di sisi lain, peningkatan kualitas layanan menjadi agenda besar kepemimpinan baru. BGN berencana melakukan inspeksi langsung ke berbagai dapur untuk menilai kesiapan sarana, kapasitas produksi, serta kepatuhan terhadap petunjuk teknis pelaksanaan program.
Setiap dapur nantinya akan diklasifikasikan berdasarkan kemampuan operasionalnya sehingga kapasitas layanan dapat disesuaikan dengan kondisi riil di lapangan. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas makanan sekaligus menjaga keberlanjutan program.
Perubahan strategi tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis ke depan tidak lagi hanya diukur dari banyaknya penerima manfaat, melainkan juga dari kualitas layanan, tata kelola yang transparan, serta efektivitas intervensi gizi bagi kelompok yang paling membutuhkan.
Dengan pendekatan baru tersebut, BGN berharap Program MBG dapat berkembang menjadi program sosial yang lebih akuntabel, berkelanjutan, dan memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.































































