Jakarta — Direktur Eksekutif Setara Institute, Halili Hasan, menilai insiden ledakan di SMAN 72 Jakarta harus menjadi peringatan serius bagi pemerintah untuk kembali memperkuat kebijakan pencegahan ekstremisme berbasis kekerasan di lingkungan pendidikan.
Menurutnya, dalam beberapa tahun terakhir, program deradikalisasi dan kontra-ekstremisme mengalami pelemahan, baik dari sisi koordinasi antarlembaga maupun dukungan anggaran.
“Program deradikalisasi dan kontra-ekstremisme seharusnya menjadi bagian dari prioritas nasional agar generasi muda tidak mudah terpapar ideologi kebencian,” tegas Halili, Senin (10/11/2025).
Setara Institute mencatat, lemahnya literasi digital dan minimnya kemampuan deteksi dini di sekolah membuat ruang siber menjadi lahan subur bagi penyebaran paham ekstrem. Banyak remaja, kata Halili, mengakses konten intoleran tanpa pengawasan memadai dari pihak sekolah maupun keluarga.
“Pemerintah bersama lembaga pendidikan dan masyarakat sipil harus meningkatkan upaya pencegahan sejak dini. Pendidikan karakter dan literasi digital harus menjadi garda depan dalam membentengi anak-anak dari ideologi kekerasan,” ujarnya.
Ia menambahkan, penguatan kolaborasi antara BNPT, Kemendikbudristek, Kemenag, dan organisasi masyarakat sipil perlu segera dilakukan agar langkah pencegahan berjalan sistematis dan berkelanjutan.
“Kita tidak bisa hanya reaktif setelah muncul kasus. Negara harus hadir secara konsisten dalam membangun ketahanan ideologi generasi muda,” tutur Halili.
Ledakan terjadi dua kali di lingkungan SMA Negeri 72, Jalan Prihatin Nomor 87, Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara — masing-masing di area masjid sekolah dan di bagian belakang gedung. Peristiwa itu melukai puluhan orang dan memunculkan dugaan adanya bom rakitan yang dibawa oleh salah satu siswa.
Polisi menemukan sejumlah barang bukti di lokasi, termasuk senjata mainan yang di permukaannya terdapat tulisan nama-nama pelaku penembakan masjid di luar negeri, seperti Brenton Tarrant, Alexandre Bissonnette, dan Luca Traini. Ketiganya diketahui sebagai pelaku serangan terhadap jamaah masjid dan imigran di berbagai negara dengan motif supremasi kulit putih dan ideologi neofasis.
Selain itu, pada senjata mainan tersebut juga tertulis kalimat “Welcome to Hell” dan “For Agartha”, yang diduga mengandung simbolisme tertentu yang kerap digunakan dalam komunitas daring ekstremis.
Penyelidikan kemudian mengarah pada seorang siswa sekolah tersebut. Setelah dilakukan penggeledahan di rumahnya pada Sabtu malam (8/11), polisi menemukan barang-barang yang konsisten dengan temuan di tempat kejadian perkara (TKP).
Remaja itu pertama kali ditemukan di sekitar lokasi kejadian dalam kondisi bersimbah darah, tergeletak di samping senjata mainan yang memiliki tulisan-tulisan tersebut. Ia juga diketahui mengenakan sepatu boots, celana hitam, serta kaus tanpa lengan bertulisan “Natural Selection”, yang sempat menjadi perhatian karena merujuk pada simbol yang pernah digunakan pelaku penembakan di luar negeri.

































































