Jakarta – Artis Celine Evangelista kian mantap menapaki perjalanan spiritualnya setelah memutuskan menjadi mualaf. Perubahan besar dalam hidupnya itu diakui bukan karena pengaruh siapa pun, melainkan lahir dari dorongan hati yang tulus untuk menemukan ketenangan dan makna hidup yang lebih dalam.
“Semua ini berawal dari hati. Aku merasa tergerak untuk berubah dan memperdalam sesuatu yang Insyaallah membawa aku ke arah yang lebih baik,” ujar Celine saat ditemui di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (21/10/2025).
Keputusan Celine memeluk Islam memang mengundang beragam tanggapan publik. Namun, ibu empat anak ini memilih untuk fokus pada proses spiritualnya dan menganggap semua komentar sebagai bagian dari perjalanan menuju kedewasaan iman.
“Anak-anak Insyaallah open minded. Mereka melihat perubahan positif dan mendukung hal-hal yang baik. Itu yang membuat aku bersyukur,” tuturnya dengan senyum lembut.
Celine yang dikenal ceria dan ekspresif kini mengaku menemukan ketenangan batin dalam setiap langkahnya. Ia merasa lebih damai dalam berbicara dan berinteraksi dengan orang lain.
“Mungkin sekarang aku ngomong lebih tenang. Islam ngajarin aku adab, akhlak, keikhlasan, dan iman. Banyak banget pelajaran tentang cinta kasih dan perdamaian dalam Islam,” katanya.
Bagi Celine, menjadi muslim bukan sekadar mengganti keyakinan, melainkan juga proses memperbaiki diri secara menyeluruh. Ia pun mulai belajar mengenakan busana yang lebih tertutup sebagai wujud penghormatan terhadap ajaran agamanya.
“Pakaian tertutup itu bentuk menjaga kehormatan. Aku masih belajar, mungkin belum sempurna, tapi pelan-pelan insyaallah menuju lebih baik,” ucapnya.
Selain memperbaiki diri dari segi penampilan dan tutur kata, Celine juga aktif mengikuti kajian agama untuk memperdalam pemahaman tentang Islam.
“Kita nggak akan pernah berhenti belajar. Aku ikut kajian untuk mengejar ketertinggalan. Semakin belajar, semakin sadar kalau Islam itu indah,” ujarnya penuh haru.
Perjalanan Celine Evangelista menuju kehidupan baru ini menjadi potret tentang pencarian spiritual yang tulus. Ia menunjukkan bahwa hidayah bisa datang kapan saja—dan ketika hati terbuka, cahaya iman pun menyinari kehidupan dengan kedamaian.































































