JAKARTA — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H yang jatuh pada Selasa (25/8/2026) menjadi momentum untuk kembali menggali keteladanan Rasulullah dalam membangun kehidupan yang harmonis di tengah masyarakat yang majemuk.
Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak umat Islam tidak berhenti pada peringatan secara seremonial, tetapi menjadikan akhlak Rasulullah sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Nasaruddin, akhlak menjadi fondasi penting dalam membangun peradaban. Ketika nilai tersebut benar-benar diterapkan, berbagai aspek kehidupan masyarakat akan ikut bergerak menuju arah yang lebih baik.
“Ketika akhlak tegak, keadilan akan tumbuh. Ilmu pengetahuan akan membawa manfaat, kekuasaan akan dijalankan dengan amanah, dan kasih sayang akan menjadi perekat kehidupan bermasyarakat,” pesan Nasaruddin di Jakarta, dikutip dari Kemenag.go.id, Senin (24/8/2026).
Nasaruddin mengatakan perjalanan dakwah Rasulullah SAW memberikan pelajaran bahwa pembangunan masyarakat tidak dapat dilepaskan dari pembentukan akhlak.
Menurutnya, Rasulullah mengawali dakwah dengan membangun karakter manusia. Dari karakter yang baik itulah kemudian lahir kehidupan sosial yang menjunjung keadilan, ilmu pengetahuan, amanah, serta kasih sayang.
Pesan tersebut dinilai semakin relevan dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang memiliki latar belakang agama, budaya, suku, dan tradisi yang beragam.
Dalam kondisi masyarakat yang majemuk, toleransi tidak cukup hanya dipahami sebagai konsep, tetapi perlu diwujudkan melalui sikap saling menghormati dan kepedulian terhadap sesama.
Keteladanan Rasulullah, kata Nasaruddin, dapat menjadi rujukan bagaimana perbedaan tidak menjadi sumber perpecahan, melainkan dikelola dengan akhlak dan sikap saling menghargai.
Semangat Maulid Nabi juga dapat menjadi momentum memperkuat kepedulian sosial. Ajaran Rasulullah tidak hanya berbicara mengenai hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga mengenai bagaimana manusia memperlakukan sesamanya.
Keadilan, kasih sayang, amanah, dan kepedulian menjadi nilai yang penting untuk terus dihidupkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalam konteks kebangsaan, nilai-nilai tersebut dapat memperkuat persaudaraan sekaligus mencegah munculnya sikap eksklusif yang berpotensi mengganggu keharmonisan sosial.
Karena itu, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan tahunan, tetapi menjadi momentum refleksi untuk menerjemahkan keteladanan Rasulullah dalam kehidupan nyata.
Akhlak yang baik, toleransi terhadap perbedaan, kepedulian kepada sesama, serta sikap amanah menjadi nilai yang dapat memperkuat kehidupan bersama.
Dengan menjadikan akhlak sebagai fondasi, pesan Maulid Nabi tidak hanya dikenang, tetapi juga dapat hadir dalam perilaku masyarakat dan menjadi bagian dari upaya membangun Indonesia yang damai, adil, dan harmonis.






























































