Nagekeo — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mengambil peran dalam penanganan kebutuhan pangan masyarakat terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sebanyak 71 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG disiagakan untuk membantu menyediakan makanan bagi masyarakat yang berada di lokasi pengungsian pascagempa.
Presiden Prabowo Subianto mengatakan keberadaan makanan bergizi menjadi sangat penting bagi masyarakat yang berada dalam kondisi sulit, terlebih mereka yang harus bertahan di pengungsian selama berhari-hari.
Hal tersebut disampaikan Prabowo saat meninjau penanganan korban gempa sekaligus memimpin rapat koordinasi bersama sejumlah menteri dan kepala lembaga di Kabupaten Nagekeo, NTT, Rabu (26/8/2026).
Menurut Prabowo, manfaat seporsi makanan akan terasa berbeda bagi masyarakat yang sedang menghadapi keterbatasan akibat bencana.
“Kalau untuk orang mampu, satu porsi makanan itu tidak ada artinya. Tapi, untuk mereka dalam keadaan susah, dan susahnya juga berhari-hari banyak yang cerita kepada saya,” ujar Prabowo.
Karena itu, ia menilai MBG dapat menjadi salah satu bentuk dukungan konkret pemerintah dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat terdampak bencana.
Prabowo bahkan menekankan bahwa perhatian pemerintah saat ini harus diarahkan terutama kepada kelompok rentan, termasuk ibu dan anak.
“Sekarang yang kita mikir ibu-ibu dan anak-anak. Jadi MBG berperan,” katanya.
Penyiagaan 71 SPPG memperlihatkan bagaimana infrastruktur MBG dapat dimanfaatkan untuk mendukung respons pemerintah ketika masyarakat menghadapi kondisi darurat.
Dalam situasi bencana, akses masyarakat terhadap makanan dapat terganggu akibat kerusakan fasilitas, terputusnya jalur distribusi, maupun perpindahan warga ke tempat pengungsian.
Keberadaan dapur MBG diharapkan membantu menjaga ketersediaan makanan bagi warga selama masa tanggap darurat. Pemerintah menyiagakan SPPG tersebut setelah gempa bumi bermagnitudo 7,7 melanda sejumlah wilayah NTT pada Sabtu (15/8/2026) dini hari.
Bagi masyarakat yang kehilangan akses terhadap kebutuhan sehari-hari, makanan tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan gizi, tetapi juga menjadi kebutuhan dasar yang harus dipastikan tersedia setiap hari.
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo juga menyinggung adanya pandangan dari sejumlah elite politik atau tokoh yang menilai MBG secara berbeda. Presiden mengatakan dirinya tetap meyakini program tersebut memberikan manfaat bagi masyarakat luas, terutama kelompok yang membutuhkan.
“Anda yang merasakan mungkin juga manfaat besar dari program MBG. Kalau saya punya keyakinan hanya beberapa elit politik, yah dengan kepentingan politik tidak memahami, tapi pada ujungnya akan memahami,” kata Prabowo.
Ia menilai ukuran keberhasilan MBG seharusnya juga dilihat dari pengalaman masyarakat yang menerima manfaat secara langsung. Dalam konteks bencana, manfaat tersebut menjadi semakin nyata karena warga menghadapi kondisi yang berbeda dari kehidupan sehari-hari.
Selain MBG, Prabowo berharap berbagai program pemberdayaan ekonomi masyarakat dapat ikut menopang proses pemulihan pascabencana. Ia menyebut Koperasi Merah Putih dan pengembangan desa-desa nelayan sebagai program yang diharapkan dapat memberikan manfaat ketika berjalan secara optimal.
“Saya yakin dengan nanti koperasi merah putih dan desa-desa nelayan kalau sudah berfungsi benar, sudah optimal saya kira juga akan sangat membantu,” ujarnya.
Sementara itu, penanganan korban gempa di NTT terus dilakukan pemerintah pusat dan daerah. Prabowo mengapresiasi pemerintah Kabupaten Nagekeo yang dinilai telah bekerja maksimal memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak.
“Ini Bupati dan pemimpin yang paling dekat sama rakyat ya,” kata Prabowo.
Ia menegaskan pemerintah pusat juga terus berupaya meningkatkan penanganan bencana.
“Jadi setelah saya dapat laporan saudara-saudara saya mantau, kita sudah berbuat maksimal. Tentunya kita ingin berbuat lebih,” ujarnya.
Dengan disiagakannya 71 SPPG, MBG kini tidak hanya hadir sebagai program pemenuhan gizi dalam situasi normal, tetapi juga menjadi bagian dari dukungan pangan bagi masyarakat yang tengah menghadapi bencana.
Bagi warga yang terdampak dan harus menjalani hari-hari di pengungsian, seporsi makanan bergizi dapat menjadi dukungan penting untuk menjaga kondisi mereka, terutama anak-anak dan ibu, selama proses penanganan dan pemulihan berlangsung.






























































