Depok – Semangkuk lawar bukan sekadar hidangan tradisional Bali. Di balik perpaduan sayur, daging, kelapa, dan rempah-rempah, tersimpan pesan tentang bagaimana perbedaan dapat menyatu menjadi kekuatan bersama. Nilai itulah yang diangkat Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Hindu Kementerian Agama RI dalam kegiatan Simakrama dan Ngelawar Bersama di Pura Amrta Jati, Cinere, Minggu (28/6/2026).
Kegiatan gotong royong meracik lawar digelar sebagai bagian dari persiapan menyambut upacara keagamaan Pujawali. Namun, bagi Ditjen Bimas Hindu, kegiatan tersebut juga menjadi ruang mempererat kebersamaan antara pemerintah dan umat Hindu melalui tradisi yang telah diwariskan turun-temurun.
Direktur Jenderal Bimas Hindu menilai filosofi lawar mencerminkan wajah Indonesia yang dibangun dari keberagaman.
“Lawar itu bukan campuran dari bahan yang sama, melainkan dari elemen-elemen yang berbeda. Ketika dipadukan, semuanya menghasilkan cita rasa yang utuh. Itulah makna kebersamaan yang ingin kita rawat,” ujarnya, dikutip dari laman resmi Bimas Hindu Kementerian Agama.
Menurutnya, semangat gotong royong dalam tradisi ngelawar menunjukkan bahwa kehidupan bermasyarakat tidak dibangun oleh keseragaman, melainkan oleh kemampuan menerima dan menghargai perbedaan. Karena itu, kegiatan semacam ini menjadi media yang efektif untuk memperkuat nilai persaudaraan dan toleransi.
Tradisi ngelawar sendiri merupakan kegiatan memasak bersama yang lazim dilakukan masyarakat Bali menjelang pelaksanaan upacara adat maupun keagamaan. Prosesnya melibatkan banyak orang yang bekerja bersama menyiapkan bahan hingga hidangan siap disajikan, sehingga menjadi simbol kuat kebersamaan dalam kehidupan komunal.
Kehadiran jajaran Ditjen Bimas Hindu yang turut membaur bersama umat mendapat sambutan positif dari masyarakat.
Penasehat Pengurus Banjar Pura Amrta Jati, Ida Bagus Wisnu Wardhana, menilai pendekatan tersebut mampu mempererat hubungan antara pemerintah dan umat melalui aktivitas yang sederhana namun sarat makna.
“Kami mengucapkan terima kasih dan sangat bangga dengan konsep kegiatan ini karena benar-benar menciptakan keeratan persaudaraan,” katanya.
Senada dengan itu, Ketua Banjar Pura Amrta Jati Made Budi P. Artha bersama Perwakilan Panitia Pujawali Ketut Sugiarta menilai keterlibatan langsung aparatur pemerintah dalam tradisi komunal menjadi bentuk nyata kehadiran negara dalam mendukung kehidupan keagamaan masyarakat.
Mereka berharap kegiatan seperti ini terus dilaksanakan karena tidak hanya membantu persiapan upacara keagamaan, tetapi juga memperkuat semangat gotong royong, menjaga tradisi, sekaligus merawat harmoni di tengah masyarakat yang majemuk.































































