BOGOR — Ribuan kilometer dari Banyuwangi, tradisi dan semangat persaudaraan warga Osing tetap dirawat. Ikatan Keluarga Banyuwangi (Ikawangi) Koordinator Wilayah (Korwil) Bogor menjadikan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 2026 bukan sekadar agenda keagamaan, tetapi juga ruang untuk mempererat kembali hubungan sesama warga Banyuwangi di perantauan.
Suasana tersebut terasa dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar di Saung CP, Keranggan, Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Sabtu (5/9/2026). Ratusan warga hadir, mulai dari pengurus dan anggota Ikawangi hingga perwakilan sejumlah organisasi dan komunitas warga Banyuwangi di wilayah Jabodetabek.
Sejumlah tamu yang hadir antara lain Pembina Ikawangi Pusat Afandi, perwakilan Ikawangi Korwil Depok, Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Magenta, Prajurit Blambangan, serta mahasiswa asal Banyuwangi yang tengah menempuh pendidikan di IPB University.
Peringatan Maulid tersebut menghadirkan KH Agus Salim Lc., yang juga Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bogor, sebagai penceramah.
Namun, ada satu hal yang membuat suasana Maulid terasa semakin kental dengan identitas Banyuwangi: tradisi endog-endogan. Ratusan telur yang dihias dengan bunga dan berbagai ornamen ditata di sekitar podium serta sejumlah titik lokasi acara. Setelah rangkaian kegiatan selesai, kembang endog dan berkat dibagikan kepada para hadirin.
Bagi warga Banyuwangi, endog-endogan bukan sekadar hiasan dalam perayaan Maulid. Tradisi tersebut menjadi bagian dari warisan budaya yang menghubungkan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan identitas masyarakat Banyuwangi.
Ketua Terpilih Ikawangi Korwil Bogor periode 2026-2029, H. Pujiharto, mengatakan pelestarian tradisi tersebut sengaja dilakukan agar warga Banyuwangi di perantauan tetap memiliki ruang untuk mengenal dan meneruskan budaya leluhur.

“Maulid Nabi ini adalah bentuk komitmen dan tradisi silaturahmi warga Banyuwangi di perantauan, khususnya di Bogor Raya. Sesuai tema Maulid Nabi ini, kami ingin warga Banyuwangi di Bogor selalu terhubung dalam silaturahmi dan semangat Gendong Indit, Megiyet Bareng, Guyub Rukun, Seduluran Selawase,” ujar Puji.
Pembina Ikawangi Pusat Afandi mengingatkan warga Banyuwangi di Bogor agar terus memperkuat persaudaraan. Menurutnya, keberadaan Ikawangi sejak awal memang dimaksudkan sebagai wadah untuk menjaga hubungan antarwarga Banyuwangi yang hidup jauh dari kampung halaman.
Afandi mengenang ketika dirinya ikut mendirikan Ikawangi Jakarta Raya pada 1972. Saat itu, organisasi tersebut dibangun untuk menjadi ruang silaturahmi warga Banyuwangi di Jakarta dan sekitarnya. Kini, keberadaan organisasi warga Banyuwangi telah berkembang di berbagai daerah di Indonesia.
“Saya berharap khusus kepada Ikawangi Korwil Bogor terus maju karena akeh wong Banyuwangi di Bogor, harus lebih semarak dan menebarkan aroma wangi di Bogor, seperti dengan cara Maulid Nabi ini,” kata Afandi.

Ia juga memaklumi tidak seluruh perwakilan Ikawangi di Jabodetabek dapat hadir dalam kegiatan tersebut karena terdapat sejumlah agenda lain yang berlangsung bersamaan.
Menurutnya, yang terpenting adalah semangat Maulid tetap dijaga sebagai kegiatan keagamaan sekaligus sarana mempererat persaudaraan.
Dalam tausiyahnya, KH Agus Salim Lc. mengajak jamaah meneladani Nabi Muhammad SAW, termasuk dalam cara berkomunikasi dan memperlakukan sesama.
Ia juga mengingatkan umat Islam agar memperbanyak membaca salawat kepada Nabi Muhammad SAW sebagai bagian dari kecintaan kepada Rasulullah.
Pesan khusus disampaikan kepada para orang tua mengenai tantangan kehidupan anak di tengah perkembangan teknologi dan media sosial.

Menurut KH Agus Salim, kemajuan teknologi perlu diimbangi dengan pendampingan orang tua agar anak tidak kehilangan perhatian terhadap kewajiban agama. Ia mencontohkan kewajiban salat lima waktu yang terus diingatkan melalui azan.
“Di mana berisi ajakan mulia pada kalimat Hayya ‘alash-shalah mengajak untuk salat, dan Hayya ‘alal-falah mengajak menuju kemenangan atau kesuksesan dunia dan akhirat,” jelasnya.
Suasana tausiyah berlangsung interaktif. Di sela ceramah, KH Agus Salim memberikan sejumlah pertanyaan kepada jamaah terkait salawat. Hadirin yang mampu menjawab mendapatkan doorprize.

Rangkaian Maulid kemudian ditutup dengan pembagian kembang endog dan berkat kepada para peserta, dilanjutkan makan siang bersama dengan hidangan khas seperti rawon dan soto.
































































