JAKARTA — Lebih dari 500 pelajar SMA dan SMK dari 53 sekolah di Jabodetabek dan sejumlah daerah berkumpul dalam Ragamuda 2026. Selama dua hari, 22–23 Agustus 2026, mereka menjadikan perjumpaan lintas agama dan budaya sebagai cara untuk merawat kebhinekaan sekaligus memperkuat ketahanan generasi muda terhadap intoleransi dan paham ekstremisme kekerasan.
Ragamuda 2026 diinisiasi oleh tiga sekolah, yakni SMA Kolese Kanisius, SMA Al-Izhar Pondok Labu, dan SMAK Pangudi Luhur Brawijaya. Kegiatan tersebut mempertemukan pelajar dari beragam latar belakang, termasuk SMA De Britto, SMA Michael, PIKA, Al-Mizan Majalengka hingga SMAK Borong, Nusa Tenggara Timur.
Bagi para peserta, keberagaman tidak berhenti sebagai slogan. Mereka menerjemahkannya melalui ruang perjumpaan, dialog, kegiatan seni, hingga pawai budaya yang melibatkan ratusan pelajar.
Ketua Umum Ragamuda 2026 dari SMA Kolese Kanisius, Jonas, mengatakan generasi muda menghadapi tantangan untuk menjaga persatuan di tengah potensi intoleransi dan polarisasi yang semakin mudah berkembang.
“Sebagai Ketua Umum Ragamuda 2026 dari SMA Kolese Kanisius, saya sangat menyadari bahwa tantangan terbesar generasi kami adalah menjaga persatuan di tengah maraknya potensi intoleransi dan polarisasi,” ujar Jonas.
Menurut dia, generasi muda memiliki tanggung jawab untuk membangun kesadaran mengenai pentingnya persaudaraan dan persatuan bangsa.
Melalui Ragamuda 2026, para siswa ingin menciptakan ruang perjumpaan yang inklusif sehingga perbedaan agama dan budaya tidak menjadi sekat dalam membangun kebersamaan.
Semangat tersebut kemudian dibawa ke ruang publik. Pada hari kedua, ratusan peserta memanfaatkan momentum Car Free Day (CFD) dengan menggelar pawai kebudayaan.
Mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia dan membawa lambang Garudatama, para pelajar berjalan menyusuri rute Menteng Raya menuju Tugu Tani hingga Patung Kuda.
Perbedaan pakaian, budaya, dan latar belakang para peserta justru menjadi kekuatan utama pawai tersebut. Mereka menunjukkan kepada masyarakat bahwa keberagaman dapat dirayakan secara terbuka tanpa harus menghilangkan identitas masing-masing.
Ailin, perwakilan SMA Al-Izhar Pondok Labu, mengatakan kegiatan tersebut lahir dari keyakinan bahwa interaksi langsung antarkelompok dapat membantu mengurangi prasangka.
“Saya menginisiasi kegiatan Ragamuda bersama kawan-kawan sejak tahun 2017 karena saya percaya bahwa perjumpaan langsung adalah obat paling manjur untuk mengikis prasangka intoleran,” ujar Ailin.
Menurutnya, perjumpaan yang melibatkan siswa dari berbagai latar belakang pendidikan, agama, dan budaya memberi kesempatan bagi mereka untuk saling mengenal secara langsung.
“Ketika kami duduk bersama, berdialog, dan berkreasi tanpa memandang sekat agama atau suku, saya yakin benih-benih radikalisme tidak akan pernah mendapat ruang untuk tumbuh di sanubari generasi penerus bangsa kita,” imbuhnya.
Rangkaian Ragamuda 2026 kemudian ditutup melalui panggung seni budaya dan konser musik Laras yang digelar oleh tiga sekolah penyelenggara.
Seni dan budaya dipilih sebagai medium untuk mempertemukan berbagai kelompok dalam suasana yang lebih cair. Kolaborasi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa perbedaan dapat menjadi sumber kreativitas dan kekuatan bersama.
Ketua Ragamuda dari SMAK Pangudi Luhur Brawijaya, Marvelius Sitompul, mengatakan kegiatan pelajar seharusnya tidak hanya berorientasi pada hiburan atau popularitas.
“Saya menegaskan bahwa ajang yang kami selenggarakan ini membuktikan bahwa kegiatan pelajar bukan sekadar ajang popularitas, melainkan langkah nyata untuk Indonesia yang lebih baik melalui edukasi toleransi antarumat beragama dan suku,” kata Marvelius.
Ia menilai kebanggaan terhadap seni dan budaya Nusantara dapat menjadi salah satu kekuatan untuk mempererat hubungan antargenerasi muda.
Menurut Marvelius, ketika keberagaman dirayakan bersama, para pelajar sekaligus membangun ketahanan sosial terhadap berbagai pengaruh yang dapat mengarah pada intoleransi, ekstremisme kekerasan, maupun terorisme.
Ragamuda 2026 pada akhirnya menunjukkan bahwa upaya merawat persatuan tidak selalu harus dimulai dari forum formal. Bagi generasi muda, persatuan dapat tumbuh dari hal sederhana: bertemu, mengenal perbedaan, bekerja sama, dan merayakan kebudayaan bersama.
Di tengah tantangan polarisasi dan derasnya arus informasi, ruang perjumpaan semacam itu menjadi penting. Sebab, semakin banyak anak muda yang terbiasa hidup dalam keberagaman, semakin kuat pula fondasi sosial untuk membangun Indonesia yang inklusif menuju Indonesia Emas 2045.































































