Jakarta — Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) menjadikan Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI Tahun 2026 tingkat nasional sebagai salah satu sarana memperkuat wawasan kebangsaan sekaligus mendorong pencegahan intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET) di kalangan generasi muda.
Sebanyak 38 tim yang mewakili provinsi dari seluruh Indonesia mengikuti kompetisi yang berlangsung pada 22–24 Agustus 2026.
Lebih dari sekadar kompetisi akademik, pertemuan pelajar dari berbagai daerah tersebut dirancang sebagai ruang untuk memperkuat kesadaran bahwa keberagaman merupakan kekuatan Indonesia. Interaksi antarpeserta diharapkan dapat menumbuhkan persahabatan dan memperkuat rasa sebagai satu bangsa.
Wakil Ketua MPR RI Bambang Wuryanto menekankan makna persatuan tersebut saat menghadiri Welcome Dinner peserta di Jakarta, Sabtu (22/8).
Menurut Bambang, Empat Pilar tidak seharusnya dipahami sebatas materi yang dipelajari atau dihafalkan. Nilai-nilainya harus tercermin dalam kehidupan masyarakat, terutama dalam sikap saling peduli sebagai sesama warga negara.
“Empat Pilar itu adalah dalam kehidupan rakyat berbangsa dan bernegara. Sakitnya kawan-kawan kita di Sumatera Utara, kita yang di Jakarta ikut sakit. Sakitnya kawan-kawan di Kalimantan Timur, kita juga ikut sakit, karena kita adalah satu bangsa, karena kita adalah NKRI,” ujar Bambang.
Pernyataan tersebut menggambarkan pentingnya membangun rasa senasib dan sepenanggungan di tengah masyarakat yang memiliki latar belakang geografis, budaya, dan sosial yang berbeda.
Bambang juga memberikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah melewati proses seleksi di daerah masing-masing hingga akhirnya menjadi wakil provinsi pada kompetisi tingkat nasional.
“Adik-adik sudah melewati perjalanan yang cukup panjang dan berhasil lolos dari setiap provinsi. Di sini ada 38 grup yang akan bertanding. Yakin akan menang?” kata Bambang.
Pertanyaan tersebut langsung disambut seruan penuh semangat dari para peserta.
Bagi MPR, pertemuan 38 tim dari seluruh Indonesia memiliki makna yang lebih luas daripada menentukan pemenang kompetisi. Pelajar yang datang dari berbagai daerah memiliki kesempatan untuk saling mengenal budaya, kebiasaan, dan pengalaman masing-masing. Proses tersebut menjadi pengalaman langsung mengenai bagaimana keberagaman dapat dipertemukan dalam satu identitas kebangsaan.
Dalam konteks pencegahan IRET, ruang perjumpaan seperti itu menjadi penting karena generasi muda tidak hanya menerima pesan tentang toleransi secara teoritis, tetapi mengalaminya melalui interaksi dengan teman sebaya dari berbagai wilayah Indonesia.
Semangat tersebut sejalan dengan tujuan LCC Empat Pilar untuk memperkuat pemahaman generasi muda terhadap Pancasila, UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta Bhinneka Tunggal Ika.
Dengan pemahaman tersebut, keberagaman diharapkan tidak menjadi celah bagi munculnya prasangka dan perpecahan, melainkan menjadi modal sosial untuk memperkokoh persatuan.
Dalam Welcome Dinner, Bambang juga mengajak seluruh peserta memberikan perhatian kepada masyarakat Nusa Tenggara Timur yang tengah menghadapi bencana gempa.
Ia mengajak para peserta dan seluruh tamu yang hadir untuk mendoakan masyarakat yang terdampak.
“Malam hari ini kita diingatkan bahwa NTT sedang mengalami bencana gempa. Mari kita lakukan yang pasti bisa kita lakukan, yaitu mengirim doa. Semoga kawan-kawan dan saudara-saudara kita di NTT dikuatkan,” tuturnya.
Ajakan tersebut sekaligus menjadi pesan bahwa persatuan tidak berhenti pada simbol atau slogan. Rasa sebagai satu bangsa juga diwujudkan melalui kepedulian terhadap sesama warga negara yang sedang menghadapi kesulitan.
Di tengah berbagai tantangan kebangsaan, penguatan karakter generasi muda menjadi bagian penting dari upaya menjaga keutuhan Indonesia. LCC Empat Pilar MPR RI 2026 berupaya menghadirkan pendidikan kebangsaan melalui cara yang lebih interaktif: mempertemukan generasi muda dari berbagai penjuru Indonesia, memberi mereka ruang berkompetisi secara sehat, sekaligus membangun persahabatan.
Dari 38 provinsi, para pelajar tersebut dipertemukan dalam satu ruang yang sama. Mereka datang membawa identitas dan budaya daerah masing-masing, tetapi pulang dengan pengalaman sebagai bagian dari satu bangsa.
Semangat itulah yang menjadi salah satu modal penting dalam membangun ketahanan generasi muda terhadap berbagai narasi yang berpotensi memecah persatuan, termasuk intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme.






























































