Jakarta – Menjelang perayaan Hari Tri Suci Waisak 2570 Buddhist Era (BE) yang jatuh pada Minggu, 31 Mei 2026, umat Buddha diajak kembali meneguhkan nilai-nilai moralitas sebagai fondasi utama kehidupan yang damai dan harmonis. Pesan tersebut disampaikan oleh YM Bhante Wongsin Labhiko Mahathera dalam refleksi Waisak yang menekankan pentingnya kebijaksanaan, cinta kasih, dan pengendalian diri di tengah berbagai tantangan kehidupan modern.
Pada perayaan Waisak tahun ini, umat Buddha mengusung tema “Dharma sebagai Sumber Moral dan Kebijaksanaan” dengan subtema “Cinta Kasih sebagai Sumber Perdamaian Dunia”. Tema tersebut dinilai relevan dengan kondisi dunia yang masih diwarnai berbagai konflik, kekerasan, dan polarisasi sosial.
Bhante Wongsin menegaskan bahwa perdamaian tidak dapat terwujud hanya melalui kesepakatan atau aturan formal, tetapi harus dimulai dari pembentukan karakter manusia yang berlandaskan moralitas yang baik.
Menurutnya, umat Buddha perlu terus meningkatkan kualitas diri melalui penguatan moralitas agar mampu melahirkan kebijaksanaan dalam setiap tindakan dan keputusan yang diambil.
“Marilah kita meningkatkan moralitas kita supaya mendapatkan kebijaksanaan sebagai umat Buddha yang terpelajar. Kita harus memiliki moralitas yang murni karena moralitas merupakan dasar kemanusiaan yang paling mulia,” ujarnya dikutip dari laman metrotvnews.com, Jumat (29/5/2026).
Dalam pesannya, Bhante Wongsin juga mengingatkan kembali inti ajaran Sang Buddha yang hingga kini tetap relevan sebagai pedoman kehidupan. Ia menyebut terdapat tiga prinsip utama yang menjadi dasar praktik ajaran Buddha dalam kehidupan sehari-hari.
Prinsip tersebut adalah menghindari segala bentuk kejahatan, memperbanyak kebajikan, serta senantiasa menyucikan hati dan pikiran.
Menurutnya, apabila nilai-nilai tersebut dijalankan secara konsisten, maka akan tercipta kehidupan yang lebih damai, baik bagi individu maupun masyarakat secara luas.
“Inilah ajaran Buddha yang perlu dilaksanakan agar kehidupan menjadi lebih baik dan dunia dapat bergerak menuju perdamaian,” katanya.
Lebih lanjut, Bhante Wongsin menjelaskan bahwa moralitas yang kuat lahir dari kesadaran batin seseorang terhadap konsekuensi dari setiap perbuatan yang dilakukan. Karena itu, manusia perlu memiliki dua benteng moral yang menjadi pengendali perilaku.
Dua benteng tersebut adalah rasa malu untuk melakukan perbuatan buruk dan rasa takut terhadap akibat negatif yang ditimbulkan dari tindakan yang tidak benar.
Menurutnya, ketika seseorang memiliki kedua sikap tersebut, maka ia akan lebih mampu menjaga perilaku, menghormati sesama, dan menjalani kehidupan dengan penuh tanggung jawab.
“Kita harus memiliki rasa malu untuk berbuat jahat dan takut terhadap akibat buruk dari perbuatan jahat. Jika kedua hal ini dimiliki, maka seseorang akan mampu hidup dengan moralitas yang baik,” ujarnya.
Pesan yang disampaikan menjelang Waisak tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa perayaan hari suci tidak hanya dimaknai sebagai ritual keagamaan, tetapi juga momentum refleksi untuk memperkuat nilai kemanusiaan, cinta kasih, dan kebijaksanaan dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui penghayatan Dharma dan penguatan moralitas, umat Buddha diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya membangun masyarakat yang lebih damai, toleran, dan saling menghormati di tengah keberagaman.
































































