Jakarta – Badan Gizi Nasional meluncurkan aplikasi Reviu Menu MBG untuk memperkuat pengawasan kualitas makanan dalam program Makan Bergizi Gratis.
Aplikasi tersebut diperkenalkan langsung oleh Wakil Kepala BGN, Sony Sonjaya, sebagai bagian dari upaya membangun sistem pengawasan berbasis partisipasi penerima manfaat.
“Aplikasi ini dikembangkan agar penerima manfaat ikut terlibat dalam pengawasan kualitas MBG. Dengan demikian, Kepala SPPG dan seluruh mitra semakin serius menjaga kualitas makanan yang didistribusikan,” kata Sony dalam keterangan tertulis, Senin (25/5/2026).
Melalui aplikasi ini, guru dan kepala Pos Pelayanan Terpadu dilibatkan secara langsung untuk menilai kualitas makanan yang diterima di lapangan.
Mereka bertindak sebagai person in charge (PIC) kelompok penerima manfaat, baik di sekolah maupun di lingkungan posyandu.
Penilaian dilakukan segera setelah paket makanan diterima. Beberapa indikator yang dinilai meliputi ketepatan waktu distribusi, aroma makanan, rasa, tampilan, hingga variasi menu yang disajikan.
BGN menilai sistem ini akan membantu proses evaluasi berjalan lebih cepat dan terukur. Berdasarkan data dasbor Reviu Menu MBG per Sabtu (23/5/2026) pukul 21.31 WIB, tercatat sebanyak 1.707 laporan telah masuk dari berbagai daerah.
Dari jumlah tersebut, 1.705 laporan atau 99,88 persen menyebut makanan dalam kondisi layak konsumsi.
Sementara dua laporan menyatakan makanan tidak layak dikonsumsi.
Dari aspek distribusi, sebanyak 1.672 laporan atau 97,95 persen menyebut makanan diterima tepat waktu atau bahkan lebih awal.
Adapun 35 laporan mencatat adanya keterlambatan pengiriman.
Untuk kualitas aroma, sebanyak 1.702 laporan atau 99,71 persen menilai makanan masih dalam kondisi baik.
Sementara dari sisi tampilan, 1.697 laporan atau 99,41 persen menyatakan makanan sesuai standar.
Pada aspek rasa, sebanyak 1.688 laporan atau 98,89 persen menyebut makanan dapat diterima dengan baik oleh penerima manfaat.
Sony berharap keterlibatan guru dan kepala posyandu dapat menjadi sistem deteksi dini jika ditemukan persoalan dalam distribusi maupun kualitas makanan di lapangan.
































































