Sukabumi — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini menjadi salah satu tonggak penting dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak usia dini. Melalui penyediaan makanan bergizi bagi anak sekolah, ibu hamil, dan kelompok rentan, program ini diharapkan dapat menekan angka kekurangan gizi sekaligus membentuk generasi yang lebih sehat, cerdas, dan produktif.
Dilansir dari laman setkab.go.id, hingga September 2025, program MBG telah menjangkau hampir 30 juta penerima manfaat di berbagai daerah. Dampaknya tidak hanya terasa pada peningkatan gizi anak dan fokus belajar di sekolah, tetapi juga ikut menggerakkan perekonomian lokal.
Pasokan bahan makanan untuk program ini banyak melibatkan petani, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), hingga penyedia jasa katering lokal — menjadikannya motor ekonomi baru di daerah.
Salah satu contohnya adalah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Warudoyong di Sukabumi, Jawa Barat. Dapur ini mulai beroperasi sejak Agustus 2025 dan kini mempekerjakan 50 warga lokal.
“Setiap hari kami menyiapkan makanan bergizi seimbang, dengan kombinasi karbohidrat, protein hewani, dan nabati. Semua bahan kami pastikan segar dan sesuai standar gizi,” ujar Melita, Kepala SPPG Warudoyong.
Aktivitas di dapur dimulai sejak dini hari, sekitar pukul 01.00 WIB. Para pegawai menyiapkan bahan dari pemasok lokal untuk diolah menjadi menu sehat yang siap didistribusikan.
“Setiap hari sekitar 3.475 porsi makanan kami kirim ke 10 sekolah di sekitar Warudoyong. Semua dalam kondisi bersih, aman, dan siap disantap anak-anak,” tambahnya.
Melita juga menekankan pentingnya higienitas. Setiap pegawai wajib menggunakan alat pelindung diri (APD) seperti sarung tangan, masker, dan penutup rambut. Semua menu pun telah melalui pemeriksaan ahli gizi untuk memastikan kandungan nutrisi dan kebersihan tetap terjaga.
Guru SD Negeri Cipanas, Imelda, mengaku kehadiran program MBG membawa perubahan besar di sekolahnya.
“Sejak MBG hadir, anak-anak jadi lebih semangat datang ke sekolah. Mereka selalu penasaran menunggu menu hari ini. Kadang sampai tebak-tebakan, hari ini lauknya apa,” ujarnya sambil tersenyum.
Senada dengan Imelda, Iwan Setiawan, guru lain di sekolah tersebut, mengatakan program ini tidak hanya membuat siswa lebih fokus belajar, tetapi juga lebih sehat.
“Alhamdulillah, anak-anak sekarang jarang jajan sembarangan. Asupan gizinya lebih terjamin, dan semangat belajar mereka meningkat,” katanya.
Keceriaan juga terpancar dari para siswa penerima manfaat. Anissa, siswi kelas 5 SD, mengaku senang bisa ikut dalam program MBG.
“Menunya enak dan selalu ganti. Saya paling suka kalau dapat daging sama buah anggur,” katanya polos.
Rekan sekelasnya, Kaisar, mengaku program ini membuatnya semakin rajin ke sekolah.
“Saya senang banget karena makanannya enak dan sehat. Sekarang bisa hemat uang jajan dan malah bisa menabung,” ucapnya sambil tersenyum malu.
Program MBG tidak hanya menjadi upaya pemerintah dalam meningkatkan gizi masyarakat, tapi juga menjadi gerakan sosial yang menghidupkan gotong royong — dari dapur warga hingga ke meja makan sekolah.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, tenaga gizi, dan masyarakat lokal, MBG diharapkan mampu melahirkan generasi Indonesia yang sehat jasmani, kuat rohani, dan cerdas berprestasi.
































































