JAKARTA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai tidak hanya memberikan manfaat bagi pemenuhan gizi anak-anak Indonesia, tetapi juga mampu menggerakkan perekonomian daerah melalui pemberdayaan UMKM dan penyerapan tenaga kerja lokal.
Temuan tersebut disampaikan Dewan Ekonomi Nasional (DEN) kepada Presiden Prabowo Subianto dalam pertemuan di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (9/6). Laporan itu merupakan hasil survei independen yang dilakukan DEN terhadap pelaksanaan Program MBG di 800 titik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah.
Ketua DEN Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan survei tersebut dilakukan secara profesional untuk menjaga objektivitas dan kredibilitas hasil yang disampaikan kepada pemerintah.
“Hasil survei yang dilakukan oleh Dewan Ekonomi mengenai pelaksanaan makan bergizi yang kita lakukan di 800 titik, jadi betul-betul dengan profesional. Jadi kita harus, kami di DEN menjaga betul kredibilitas kami dan itu kami laporkan ke Presiden,” ujar Luhut usai pertemuan.
Sekretaris DEN Septian Hario Seto menjelaskan, salah satu temuan utama survei menunjukkan bahwa mayoritas SPPG telah melibatkan pelaku usaha kecil di sekitar lokasi sebagai pemasok bahan pangan.
“Hasil pertama yang kami melihat positif adalah bahwa ada 86,9 persen dari SPPG yang ada saat ini, itu paling tidak memiliki satu supplier kecil. Jadi ini adalah UMKM yang memang ada di dekat lokasi dari SPPG tersebut. Kalau dihitung secara rata-rata ada tiga UMKM yang digandeng oleh SPPG ini,” kata Septian.
Menurutnya, keterlibatan UMKM tersebut menunjukkan bahwa Program MBG telah membentuk rantai pasok ekonomi baru yang berbasis pada potensi lokal, sehingga manfaat program tidak hanya dirasakan oleh penerima makanan bergizi, tetapi juga oleh pelaku usaha di daerah.
DEN juga mencatat sekitar 65 persen UMKM yang menjadi pemasok berasal dari kabupaten yang sama dengan lokasi SPPG beroperasi.
“Yang lebih menarik ada sekitar 65 persen sektor UMKM-nya ini berada di dalam satu kabupaten di mana SPPG itu berada. Jadi ini juga penting bahwa ini bukanlah supplier besar yang masuk, tapi UMKM-UMKM yang muncul itu memang UMKM yang ada di dalam kabupaten atau lokasi di mana SPPG tersebut berada,” jelas Septian.
Selain mendorong tumbuhnya usaha lokal, pelaksanaan Program MBG juga dinilai memberikan dampak positif terhadap penyerapan tenaga kerja di daerah. Berdasarkan hasil survei, hampir seluruh pekerja yang terlibat dalam operasional SPPG merupakan warga sekitar.
“Yang ketiga temuan kita adalah tenaga kerja, itu hampir 99 persen memang dari warga sekitar,” ujarnya.
Meski demikian, DEN menilai masih terdapat tantangan yang perlu dibenahi, terutama dalam memperkuat akses permodalan bagi UMKM agar mampu meningkatkan kapasitas produksi dan memperluas jenis komoditas yang dapat dipasok ke SPPG.
DEN juga memandang efek berganda (multiplier effect) dari Program MBG turut memberikan kontribusi terhadap aktivitas ekonomi nasional.
“Jadi ini kami juga melihat, ini juga menjadi salah satu pendorong kenapa kemarin pertumbuhan kita mencapai 5,61 persen,” kata Septian.
Laporan hasil survei tersebut disampaikan kepada Presiden Prabowo sebagai bahan evaluasi dan penguatan kebijakan pelaksanaan Program MBG ke depan.
Temuan ini memperlihatkan bahwa MBG berkembang menjadi lebih dari sekadar program pemenuhan gizi. Melalui keterlibatan UMKM lokal, pembentukan rantai pasok daerah, dan penyerapan tenaga kerja masyarakat sekitar, program ini mulai membangun ekosistem ekonomi yang memberikan manfaat langsung bagi daerah tempat program dijalankan.

































































