Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai tidak hanya berdampak pada peningkatan gizi masyarakat, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap perekonomian nasional. Hasil riset yang dilakukan tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan program tersebut berpotensi mendorong peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) hingga puluhan triliun rupiah.
Ketua Tim Peneliti MBG BRIN, Iwan Hermawan, menyampaikan bahwa berdasarkan simulasi penelitian, program MBG diperkirakan dapat menambah PDB nasional sebesar Rp14,5 triliun hingga Rp26 triliun.
“Program MBG memberikan dampak makroekonomi yang positif dan terukur. Simulasinya menunjukkan peningkatan tambahan PDB sebesar Rp14,5 hingga Rp26 triliun,” ujar Iwan dalam Seminar Hasil Riset Program MBG di Jakarta, Rabu.
Penelitian tersebut dilakukan sepanjang 2025 dengan melibatkan 855 responden di dua wilayah penelitian, yakni Kepulauan Bangka Belitung dan Jawa Barat. Tim peneliti menggunakan sejumlah pendekatan analisis, antara lain Computable General Equilibrium (CGE), Structural Equation Modelling (SEM), Institutional Analysis and Development (IAD), serta Importance Performance Analysis (IPA).
Hasil simulasi juga menunjukkan adanya peningkatan konsumsi agregat sebesar 0,19 persen serta kenaikan investasi hingga 0,24 persen, dengan tingkat inflasi yang tetap relatif terkendali.
Menurut Iwan, peningkatan tersebut terjadi karena program MBG mendorong aktivitas ekonomi melalui penguatan permintaan domestik serta pergerakan sektor riil.
Ia menjelaskan bahwa konsumsi dan investasi merupakan dua komponen utama dalam struktur PDB nasional. Karena itu, peningkatan pada kedua sektor tersebut akan memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.
“Komposisi terbesar dalam PDB adalah konsumsi dan investasi. Jika keduanya meningkat, maka kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi juga besar. Ini juga sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi nasional yang ditetapkan hingga 8 persen pada 2029,” jelasnya.
Selain dampak makroekonomi, riset tersebut juga mencatat adanya efek berantai dari program MBG di berbagai sektor produksi, terutama sektor pangan.
Peningkatan produksi terjadi pada komoditas seperti beras, produk olahan daging, susu, hingga hortikultura. Program ini juga dinilai mampu meningkatkan penyerapan tenaga kerja sekitar 0,19 persen di sektor pangan dan industri pengolahan.
Dari sisi penerima manfaat dan pemangku kepentingan, program MBG juga dinilai cukup efektif. Mayoritas responden menilai pelaksanaan program telah mendekati ekspektasi mereka, meskipun masih terdapat beberapa catatan terkait jumlah porsi makanan.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, BRIN merekomendasikan agar program MBG diperkuat melalui pembangunan sistem dashboard nasional berbasis output–outcome. Sistem ini diharapkan mampu mengintegrasikan standar gizi, keamanan pangan, distribusi, serta tata kelola program secara real-time dan transparan.
Selain itu, sistem jaminan mutu juga perlu diperkuat melalui mekanisme supervisi berbasis risiko serta fungsi quality assurance yang independen agar standar layanan tetap konsisten di seluruh daerah.
Iwan menambahkan, keberlanjutan program MBG juga sangat ditentukan oleh kesiapan sumber daya manusia serta strategi komunikasi publik yang efektif.
“Keberlanjutan program ditentukan oleh kapasitas SDM dan komunikasi publik yang baik, melalui pelatihan berkala, pelibatan komunitas, serta strategi komunikasi yang membuka ruang umpan balik dari masyarakat,” ujarnya. (Ant)

































































