GIANYAR – Pemerintah Kabupaten Gianyar, Bali, memperkuat upaya pencegahan intoleransi dan radikalisme sejak usia dini melalui program Taman Nusantara 2026. Sebanyak 80 siswa SMP negeri dari berbagai latar belakang agama mengikuti pembinaan karakter yang menekankan nilai toleransi, kebhinekaan, dan persatuan sebagai bekal menghadapi tantangan kehidupan di era digital.
Program yang berlangsung selama lima hari dan dibuka di Aula SMP Negeri 1 Tegallalang pada Senin (3/8/2026) itu merupakan kolaborasi Dinas Pendidikan Kabupaten Gianyar bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Gianyar.
Para peserta tidak hanya menerima materi di dalam kelas, tetapi juga diajak berdialog, bekerja sama, dan berinteraksi secara langsung dengan teman-teman yang memiliki latar belakang keyakinan berbeda. Pendekatan tersebut diharapkan mampu menumbuhkan sikap saling menghargai sekaligus mengikis prasangka yang kerap menjadi pintu masuk berkembangnya intoleransi.
Pelaksana Tugas Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Gianyar, Gusti Putu Ngurah Adnyana, mengatakan pendidikan harus mampu membentuk karakter peserta didik, bukan hanya mengejar prestasi akademik.
Menurutnya, keberagaman yang dimiliki Indonesia merupakan kekuatan yang harus dipahami dan dirawat oleh generasi muda sejak bangku sekolah.
“Melalui kegiatan Taman Nusantara ini, kami ingin memastikan generasi muda memiliki pemahaman bahwa keberagaman agama dan suku adalah kekuatan bangsa. Pendidikan harus melahirkan generasi yang memiliki benteng moral terhadap paham intoleran dan radikal,” ujarnya.
Ia menambahkan, perjumpaan lintas agama menjadi salah satu cara efektif untuk membangun sikap inklusif sehingga para siswa terbiasa hidup berdampingan di tengah perbedaan.
Selama kegiatan berlangsung, peserta diajak memahami nilai-nilai Pancasila melalui berbagai aktivitas kolaboratif. Pemerintah Kabupaten Gianyar menilai pendekatan semacam ini menjadi investasi penting dalam membangun ketahanan sosial di tengah derasnya arus informasi digital yang kerap memunculkan polarisasi dan ujaran kebencian.
Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kabupaten Gianyar, I Ketut Pasek Lanang Sadia, mengingatkan bahwa harmoni yang selama ini terjaga di Bali tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang akan bertahan dengan sendirinya.
Menurutnya, keberagaman harus terus dipelihara agar tidak dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok yang ingin memecah belah persatuan masyarakat.
“Saya bangga melihat kehidupan masyarakat Gianyar yang harmonis. Namun, keharmonisan itu harus terus dirawat agar tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang ingin memecah belah bangsa,” katanya.
Ia mengibaratkan Indonesia sebagai lukisan indah yang tersusun dari beragam warna. Keindahan itu, kata dia, hanya dapat terjaga apabila seluruh masyarakat memiliki kesadaran untuk saling menghormati dan menjaga perbedaan sebagai anugerah, bukan ancaman.
Menurut Pasek Lanang, pemahaman keagamaan yang baik harus berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap pemeluk agama lain. Seluruh agama, kata dia, mengajarkan nilai-nilai perdamaian dan kemanusiaan.
“Saya berharap para siswa mampu memahami ajaran agamanya dengan baik tanpa kehilangan rasa hormat kepada pemeluk agama lain. Jika nilai itu tertanam sejak remaja, mereka akan menjadi generasi yang memiliki keimanan kuat sekaligus mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga persatuan bangsa,” ujarnya.
Pemerintah Kabupaten Gianyar berharap Taman Nusantara dapat menjadi model pendidikan karakter berbasis keberagaman yang dapat terus dikembangkan di lingkungan sekolah. Dengan membiasakan pelajar berinteraksi secara sehat dalam perbedaan, potensi munculnya stereotip, prasangka, maupun bibit intoleransi diharapkan dapat ditekan sejak dini.
Di tengah meningkatnya tantangan kehidupan digital, pendidikan toleransi dinilai menjadi salah satu fondasi penting dalam menyiapkan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kebangsaan yang kuat menuju Indonesia Emas 2045.
































































