JAKARTA – Sebuah pertemuan sederhana di sebuah kafe kecil di Washington DC pada Februari 2026 menyisakan kesan mendalam bagi pengusaha dan motivator dunia asal Amerika Serikat, Tony Robbins. Menurut Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analisa Kebijakan, Dirgayuza Setiawan, percakapan dengan Presiden Prabowo Subianto malam itu bahkan membuat Tony tak kuasa menahan air mata.
Dikutip dari laman kompas.com, Dirgayuza mengisahkan dirinya menjadi saksi pertemuan pertama antara Prabowo dan Tony Robbins yang sengaja terbang dari Florida untuk mendengar langsung mengenai Program Makan Bergizi Gratis (MBG), salah satu program prioritas pemerintah Indonesia.
Di tengah perbincangan, Tony disebut mengajukan satu pertanyaan sederhana kepada Prabowo: mengapa pemerintah Indonesia menjalankan program tersebut dalam skala besar dan dengan kecepatan yang tinggi.
Sejenak terdiam, Prabowo kemudian memberikan jawaban yang menurut Dirgayuza mengubah suasana pertemuan.
Presiden, kata dia, menyampaikan bahwa dirinya tidak ingin ada anak-anak Indonesia yang mengalami kelaparan ketika negara memiliki kemampuan untuk mencegahnya. Menurut Prabowo, menunda pelaksanaan program tersebut sama saja membiarkan generasi muda kehilangan hak memperoleh gizi yang layak.
Ia juga menilai berbagai negara telah lebih dahulu menjalankan program makan sekolah sebagai investasi jangka panjang bagi pembangunan sumber daya manusia, sehingga Indonesia harus mampu melakukan hal yang sama.
Jawaban itu disebut menyentuh sisi paling personal dalam kehidupan Tony Robbins.
Sebagai tokoh di balik gerakan filantropi 500 Billion Meals Challenge, Tony memiliki pengalaman masa kecil yang penuh keterbatasan. Saat masih kecil, keluarganya pernah tidak memiliki makanan untuk perayaan Thanksgiving hingga akhirnya seorang asing datang membawa makanan dan mengubah cara pandangnya tentang arti kepedulian.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi alasan Tony mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk memerangi kelaparan melalui berbagai program kemanusiaan di berbagai negara.
Dirgayuza menilai air mata Tony malam itu bukan sekadar respons emosional, melainkan bentuk empati seorang yang pernah mengalami sendiri sulitnya mendapatkan makanan.
Menurutnya, Tony melihat seorang kepala negara yang berbicara tentang anak-anak lapar bukan sebagai angka statistik, tetapi sebagai amanah yang harus segera diwujudkan melalui kebijakan nyata.
Pertemuan itu juga melahirkan komitmen pribadi dari Tony Robbins untuk datang ke Indonesia dengan biaya sendiri guna melihat langsung implementasi Program Makan Bergizi Gratis.
Janji tersebut akhirnya diwujudkan pada awal Juni 2026. Dalam kunjungannya, Tony meninjau dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), mengikuti kegiatan makan bersama Presiden Prabowo dan para siswa di SMPN 111 Jakarta, serta memberikan motivasi di hadapan sekitar 12.000 penggerak Program MBG di Sentul, Bogor.
Bagi Dirgayuza, yang paling membekas dari seluruh rangkaian peristiwa itu bukanlah pertemuan antara dua tokoh dunia, melainkan kisah seorang anak kecil yang pernah merasakan lapar dan tumbuh menjadi sosok yang mengabdikan hidupnya untuk membantu sesama.
Ia menilai pesan yang dibawa Tony Robbins sejalan dengan semangat Program Makan Bergizi Gratis, yakni bahwa kepedulian terhadap sesama merupakan fondasi penting dalam membangun masa depan bangsa.
“Rahasia hidup adalah peduli,” tulis Dirgayuza, mengutip kalimat yang kerap disampaikan Tony Robbins dan dianggap menjadi makna paling mendalam dari pertemuan yang berlangsung pada malam musim dingin di Washington DC tersebut.































































