JAKARTA – Kesibukan merangkai janur dan menyiapkan sarana upacara di Pura Mustika Dharma, Cijantung, Jakarta Timur, Minggu (14/6/2026), tidak sekadar menjadi persiapan menyambut Hari Raya Galungan. Tradisi gotong royong yang dilakukan umat Hindu juga mencerminkan kuatnya semangat kebersamaan dan nilai moderasi beragama yang terus dijaga di tengah masyarakat.
Suasana kekeluargaan tampak mewarnai kegiatan yang diikuti tokoh agama, sesepuh, pengurus pura, hingga generasi muda. Mereka bekerja bersama menyiapkan rangkaian upacara Odalan dan Galungan sebagai bentuk pengabdian sekaligus pelestarian tradisi.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta, Adib, bersama jajaran Kanwil Kemenag DKI Jakarta dalam program Kanwil Menyapa Umat, yang bertujuan mempererat hubungan antara pemerintah dan komunitas keagamaan.
Letnan Jenderal TNI I Nyoman Cantiasa mengapresiasi kehadiran Kakanwil Kemenag DKI Jakarta yang dinilainya menunjukkan perhatian pemerintah terhadap kehidupan umat Hindu di ibu kota.
Menurut Nyoman, tradisi gotong royong menjelang hari besar keagamaan bukan hanya tentang mempersiapkan perlengkapan upacara, tetapi juga menjadi media memperkuat rasa memiliki terhadap agama, budaya, dan komunitas.
“Bapak Kakanwil dapat melihat langsung bagaimana umat bergotong royong, merangkai janur, menyiapkan banten, dan mempersiapkan rangkaian upacara. Semua ini dilakukan karena rasa cinta dan tanggung jawab dalam menjaga ajaran agama Hindu,” ujarnya.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut juga menjadi sarana pewarisan nilai kepada generasi muda. Melalui keterlibatan langsung, anak-anak dan remaja belajar mengenai pentingnya kebersamaan, kepedulian, dan tanggung jawab dalam menjaga tradisi yang diwariskan para pendahulu.
Nyoman juga menilai semangat sinergi dan kolaborasi antarumat beragama menjadi modal penting menyongsong Jakarta sebagai kota global yang tetap menjunjung tinggi nilai budaya dan toleransi.
“Sinergi berarti berjalan bersama dalam perbedaan, sedangkan kolaborasi adalah upaya bersama membangun persaudaraan, menjaga toleransi, moderasi beragama, gotong royong, dan persatuan bangsa,” katanya.
Sementara itu, Kepala Kanwil Kemenag DKI Jakarta Adib menilai tradisi gotong royong yang dilakukan umat Hindu di Pura Mustika Dharma merupakan contoh nyata bahwa aktivitas keagamaan mampu memperkuat hubungan sosial di tengah masyarakat.
Menurutnya, proses mempersiapkan upacara bersama-sama menghadirkan ruang silaturahmi yang mempererat hubungan antarsesama sekaligus memperkokoh rasa persatuan.
“Gotong royong ini tidak semata-mata mempersiapkan upacara keagamaan, tetapi juga menjadi ruang silaturahmi, saling mengenal, dan saling memberikan dukungan. Ini menguatkan kita sebagai sebuah bangsa,” ujarnya.
Adib mengajak seluruh umat beragama terus menjaga semangat kerukunan sebagai fondasi kehidupan bersama. Ia menegaskan pembangunan Jakarta sebagai kota global tidak lepas dari kontribusi seluruh elemen masyarakat, termasuk umat Hindu yang selama ini ikut menjaga keberagaman dan keharmonisan sosial.
Melalui kegiatan seperti ini, nilai gotong royong tidak hanya hidup sebagai tradisi budaya, tetapi juga menjadi jembatan yang memperkuat toleransi, mempererat persaudaraan, dan menjaga harmoni kehidupan beragama di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.

























































