Mandalika kembali bergemuruh. Bukan hanya deru mesin MotoGP, tapi juga lautan manusia. Sejak Rabu, 7 Oktober 2026, ribuan warga tumpah ruah di Kota Mataram saat Riders Parade Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 digelar. Dari Taman Sangkareang hingga Taman Udayana, anak-anak, komunitas otomotif, hingga wisatawan mancanegara berdiri berdesakan menyambut Marc Marquez, Veda Ega Pratama, Mario Aji dan puluhan rider MotoGP, Moto2, Moto3.
Ini baru pemanasan. Race weekend resmi akan berlangsung 9-11 Oktober 2026 di Pertamina Mandalika International Circuit, Lombok Tengah. Panitia memprediksi jumlah penonton tahun ini mencapai 145 ribu orang, bahkan lonjakan trafik telekomunikasi diprediksi menembus 200 ribu pengunjung selama tiga hari penyelenggaraan.
Di babak kualifikasi, Sabtu (10/10), titik kemacetan telah terjadi menuju Mandalika dan pusatnya di pintu masuk Sirkuit Mandalika. Ribuan spectators (penonton) sudah menjubeli pintu-pintu masuk sirkuit.
Ekonomi bergerak, pariwisata NTB kembali menjadi magnet dunia. Namun di balik euforia ini, ada satu kata yang tidak boleh lengah: KEAMANAN. Event internasional dengan konsentrasi massa sebesar ini selalu menjadi etalase sekaligus target empuk gangguan keamanan.
MotoGP Mandalika 2026 adalah seri ke-17 dari 22 seri kalender dunia. Artinya, sorotan kamera internasional, liputan media global, dan kehadiran puluhan ribu WNA akan tertuju pada satu titik: Lombok.
Dalam doktrin keamanan, ini yang disebut sebagai high-value soft target. Gangguan kecil saja akan menjadi berita besar dunia. Mulai dari kericuhan penonton, pencurian, penyelundupan narkoba, hingga potensi paling ekstrem: aksi terorisme.
Polda NTB, Korem 162/Wira Bhakti, dan Satgas Pengamanan MotoGP telah menggelar operasi terpusat. Namun tantangan tahun ini lebih kompleks. Penonton tidak lagi terpusat di sirkuit saja, melainkan menyebar di Mataram, Senggigi, Gili, hingga Pelabuhan Lembar dan Bandara Internasional Lombok.
Waspada Sel Tidur Radikalisme di NTB: Ancaman Nyata yang Tak Boleh Dianggap Remeh
Kita harus jujur: Nusa Tenggara Barat memiliki catatan khusus dalam peta penanganan radikalisme nasional.Data BNPT dan Densus 88 AT Polri selama beberapa tahun terakhir menunjukkan NTB, khususnya Lombok Timur, Lombok Tengah, dan Bima, pernah menjadi wilayah transit, perekrutan, dan persembunyian jaringan radikal. Beberapa penangkapan teroris kelompok JAD, JI, hingga simpatisan ISIS pernah dilakukan di wilayah ini.
Mereka tidak hilang. Mereka bertransformasi menjadi sel-sel tidur. Kecil, senyap, bergerak di bawah tanah, dan sangat paham medan lokal.
Mengapa MotoGP menjadi momentum yang mereka incar? Efek Publisitas Global. Satu aksi kecil di event dunia akan diliput media internasional secara masif, sesuai tujuan utama terorisme: menciptakan ketakutan.
Kerumunan dan Celah. Ribuan orang yang datang dari berbagai daerah dan negara membuat proses profiling menjadi sangat sulit. Penyusupan menjadi lebih mudah.
Narasi Anti-Internasionalisasi. Kelompok radikal sering menggunakan narasi penolakan terhadap event internasional yang dianggap membawa budaya barat, musik, dan pariwisata bebas yang bertentangan dengan ideologi sempit mereka.
Kita tidak sedang menuduh masyarakat NTB. Justru sebaliknya, masyarakat NTB adalah yang paling dirugikan jika citra Mandalika ternoda oleh ulah segelintir oknum radikal.
Eskalasi pengunjung harus diimbangi dengan eskalasi pengamanan intelijen, bukan hanya pengamanan fisik. Pertama, Deteksi Dini Berbasis Komunitas. Babinsa, Bhabinkamtibmas, tokoh agama, dan tokoh adat di lingkar Mandalika harus diaktifkan. Warga adalah sensor terbaik. Pendatang baru yang mencurigakan, kontrakan yang tertutup, atau aktivitas pengajian eksklusif yang tertutup harus segera dilaporkan.
Kedua, Perketat Filter Pintu Masuk. Bandara Lombok, Pelabuhan Lembar, Pelabuhan Kayangan, dan jalur-jalur tikus darat harus diperketat dengan pemeriksaan identitas dan face recognition. Densus 88 dan BIN Daerah NTB perlu memaksimalkan daftar DPO dan simpatisan.
Ketiga, Sterilisasi dan Pengamanan Cyber. Ancaman hari ini bukan hanya bom fisik, tapi juga drone liar, cyber attack terhadap sistem komunikasi, dan provokasi hoaks di media sosial yang bisa memicu kericuhan antar penonton. Komdigi yang telah menyiapkan 250 frekuensi dan 4 BTS bergerak harus memastikan sistem komunikasi pengamanan tidak bisa di-jamming.
Keempat, Jangan Hanya Jaga Sirkuit, Jaga Jalur Logistik. Pengamanan harus meluas ke hotel, homestay, restoran, dan tempat hiburan. Potensi gesekan antara wisatawan dan warga lokal karena miras, harga, atau pelecehan bisa dipolitisasi oleh kelompok radikal untuk menciptakan kerusuhan.
Mandalika adalah kebanggaan Indonesia. Keberhasilan MotoGP 2026 bukan hanya diukur dari siapa juara di lintasan, tapi apakah 145 ribu penonton itu bisa pulang dengan selamat dan membawa cerita indah tentang Lombok.
Ribuan penonton sudah menyerbu. Aparat sudah bersiaga. Kini giliran kita semua untuk waspada. Laporkan jika melihat hal mencurigakan, jangan mudah terpancing provokasi, dan jangan beri ruang satu jengkal pun bagi sel-sel radikal untuk merusak pesta rakyat NTB. Karena terorisme tidak butuh banyak orang, cukup satu celah lengah.
Penulis: Agus Gombol

































































