Denpasar — Wujud toleransi antarumat beragama di Bali kembali terlihat nyata dalam perayaan Natal 2025. Dukungan lintas iman tampak dalam pengamanan ibadah Natal di GPIB Maranatha Denpasar, Kamis (25/12/2025), yang berlangsung aman dan tertib berkat keterlibatan pecalang Banjar Abasan, Desa Dangin Puri.
Kehadiran pecalang—polisi adat Bali yang mayoritas beragama Hindu—ikut membantu pengamanan selama rangkaian ibadah Natal berlangsung. Kolaborasi ini menjadi potret keseharian toleransi di Bali, di mana umat lintas agama saling menjaga kenyamanan dan keamanan dalam menjalankan ibadah.
Ketua Bidang III GPIB Maranatha Denpasar, Imanuel, mengatakan keterlibatan pecalang telah menjadi bagian penting dalam menjaga kelancaran perayaan Natal. Kerja sama tersebut, menurutnya, bukan hal baru dan telah berlangsung secara rutin setiap tahun.
“Setiap kami ada kegiatan, pecalang Banjar Abasan selalu terlibat dan tanpa diminta. Ini memang sudah menjadi inisiatif dari banjar untuk membantu kami,” ujar Imanuel.
Ibadah Natal di GPIB Maranatha Denpasar tahun ini digelar dalam tiga sesi. Dengan jumlah jemaat yang terus berdatangan hingga sore hari, pihak gereja merasa sangat terbantu, terutama dalam pengaturan lalu lintas dan keamanan di sekitar lokasi ibadah.
“Ini sudah berlangsung bertahun-tahun dan umat sudah tahu. Jemaat juga sangat terbantu,” ucap Imanuel.
Ia berharap kolaborasi antara gereja dan unsur adat setempat terus terjaga. Menurutnya, pemahaman terhadap nilai-nilai lokal menjadi hal penting, khususnya bagi jemaat yang sebagian besar merupakan pendatang.
“Kami berharap ini bisa berlanjut. Apalagi kami di sini kebanyakan pendatang, jadi kami berharap umat juga paham bahwa nilai-nilai lokal harus dijaga,” tambahnya.
Sementara itu, Bendahara Pecalang Banjar Abasan, Kadek Riana, menjelaskan bahwa tugas utama pecalang adalah membantu pengamanan lalu lintas dan memastikan jemaat dapat menyeberang jalan dengan aman menuju gereja.
Sejak pukul 08.00 Wita, belasan pecalang telah bersiaga dan diperkirakan akan terus bertugas hingga malam hari. Kadek Riana mengungkapkan bahwa keterlibatan pecalang dalam pengamanan Natal di GPIB Maranatha Denpasar telah berlangsung sekitar 10 tahun.
“Mudah-mudahan di hari raya besar ini situasi keamanannya tetap aman terkendali, ibadah gereja berjalan lancar, dan hubungan antara umat beragama Hindu dan Kristen tetap terjalin dengan erat,” ujarnya.
Menurut Kadek Riana, pengamanan oleh pecalang tidak hanya dilakukan saat Natal, tetapi juga rutin dilaksanakan setiap ibadah Minggu. Hal tersebut menjadi bukti bahwa toleransi dan kebersamaan antarumat beragama di lingkungan tersebut telah terjalin dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Bali.
































































