Lampung – Sebanyak 25 anak di Provinsi Lampung teridentifikasi terpapar paham radikalisme. Temuan ini menjadi bagian dari 782 anak yang teridentifikasi terpapar radikalisme di Indonesia sepanjang 2025 hingga 2026, menurut data Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).
Kepala BNPT Komjen Eddy Hartono mengatakan, 25 anak di Lampung tersebut telah mendapatkan intervensi dan masih menjalani proses pendampingan. Penanganan dilakukan sebagai bagian dari upaya mencegah paparan paham radikal berkembang lebih jauh di kalangan anak-anak.
“Jadi, tahun 2025 sampai 2026 ini mengalami kenaikan menjadi 782 anak, khususnya anak-anak yang terpapar radikalisme. Sementara di Lampung ada 25 anak dan ini sudah dilakukan intervensi, masih terus berproses,” kata Eddy seusai pemutaran film AGEMAN di lingkungan Pemerintah Provinsi Lampung, Rabu (28/10/2026).
Eddy menilai paparan radikalisme terhadap anak perlu menjadi perhatian serius, terutama seiring meluasnya pemanfaatan ruang digital untuk menyebarkan paham ekstrem. Internet dan media sosial tidak hanya menjadi saluran penyebaran propaganda, tetapi juga berpotensi dimanfaatkan untuk merekrut anggota dan menggalang pendanaan bagi aktivitas terorisme.
Karena itu, BNPT mendorong penguatan literasi digital bagi anak-anak dan generasi muda. Melalui edukasi tersebut, mereka diharapkan mampu mengenali konten bermuatan kekerasan, bersikap kritis terhadap informasi yang diterima, serta tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang mengarah pada radikalisme.
Salah satu pendekatan yang ditempuh BNPT adalah menggunakan media film edukatif AGEMAN. Film ini diharapkan menjadi sarana untuk menyampaikan pesan tentang keberagaman, kebersamaan, dan toleransi dengan cara yang lebih dekat dengan masyarakat, khususnya generasi muda.
“Pemutaran film ini membawa pesan cukup mendalam. Artinya, kami bersama pemerintah daerah berharap film ini menumbuhkan nilai-nilai keberagaman, kebersamaan, karena merawat kebinekaan di tengah perbedaan merupakan amanat para pendiri bangsa,” ujar Eddy.
BNPT juga memperkuat kolaborasi dengan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT), tokoh masyarakat, tokoh agama, pemerintah daerah, dan institusi pendidikan. Kerja sama lintas sektor ini diarahkan untuk memperluas jangkauan edukasi sekaligus membangun lingkungan yang mendukung tumbuhnya sikap toleran di kalangan anak dan remaja.
Film AGEMAN rencananya akan disebarluaskan ke lingkungan pendidikan, mulai dari jenjang SMP dan SMA hingga perguruan tinggi. Pemanfaatan media edukasi tersebut diharapkan dapat membantu pelajar memahami pentingnya menghargai perbedaan sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap konten kekerasan di ruang digital.
“Ini salah satu upaya mengedukasi masyarakat supaya tidak ada lagi anak-anak kita yang terpapar konten-konten kekerasan di media sosial,” kata Eddy.
Sementara itu, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengatakan, Pemerintah Provinsi Lampung menjalankan program deradikalisasi bagi kelompok yang telah terpapar paham radikal. Upaya tersebut disertai langkah pencegahan agar paparan tidak meluas, terutama di kalangan generasi muda.
Menurut Mirzani, pemerintah provinsi telah menjalankan program deradikalisasi selama setahun terakhir. Pemprov Lampung juga memperkuat sosialisasi, literasi, dan pendidikan wawasan kebangsaan, khususnya bagi pelajar SMP dan SMA.
Untuk memperluas edukasi di sekolah, Pemprov Lampung mewajibkan seluruh unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) terlibat dalam kegiatan pembinaan dan edukasi di tingkat SMA.
Langkah tersebut menempatkan sekolah sebagai salah satu ruang penting dalam membangun daya tangkal generasi muda. Namun, upaya pencegahan juga membutuhkan keterlibatan keluarga dan masyarakat agar anak memperoleh pendampingan ketika berhadapan dengan konten digital yang mengandung intoleransi atau kekerasan.
Melalui pendampingan terhadap anak yang telah terpapar, penguatan literasi digital, serta pendidikan kebangsaan dan toleransi, BNPT dan Pemprov Lampung berharap upaya pencegahan dapat menjangkau lebih banyak anak sebelum paparan berkembang menjadi persoalan yang lebih serius.

































































