Jakarta – Awal September lalu, seorang remaja Austria berusia 18 tahun, Emrah I., tewas tertembak setelah melancarkan serangan dengan senapan antik kepada polisi Jerman di München. Diduga terpengaruh oleh ekstremisme Islam, Emrah, yang berasal dari sebuah kota kecil di Salzburg, jarang sekali terlihat di masjid setempat.
Indikasi tentang perilaku ekstremnya muncul awal tahun 2023, ketika polisi Austria menyelidiki sebuah perkelahian di sekolahnya dan menemukan video permainan komputer di ponselnya. Dalam video tersebut, Emrah menandai lokasi kejadian dengan bendera Al Qaeda, memicu dugaan bahwa ia telah terpengaruh oleh radikalisasi daring dalam beberapa bulan terakhir.
Antara Maret 2023 dan Maret 2024, Washington Institute for Near East Policy mencatat 470 kasus hukum terkait kelompok ekstremis ISIS, dengan setidaknya 30 kasus melibatkan remaja atau anak di bawah umur. Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa angka sebenarnya mungkin jauh lebih tinggi karena banyak negara tidak mempublikasikan data tentang usia tahanan.
Studi terbaru yang dipimpin oleh Peter Neumann dari King’s College London mengungkapkan bahwa hampir dua pertiga dari penangkapan terkait ISIS di Eropa melibatkan remaja, menyoroti tren yang mengkhawatirkan dalam radikalisasi kaum muda.
Meskipun telah dikalahkan secara militer pada tahun 2017, kelompok IS masih ada. Kehadirannya mencakup kebangkitan di negara-negara Afrika dan cabang yang berbasis di Afganistan yang dikenal sebagai “Negara Islam Provinsi Khorasan,” yang sering disebut sebagai IS-K atau ISIS-K.
Sejak Januari tahun ini, IS-K mendorong para pengikutnya untuk melakukan serangan “lone wolf” di Eropa dan menargetkan acara-acara besar seperti olimpiade, konser, dan pertandingan sepak bola.
Para ahli menemukan indikasih bahwa pesan-pesan tersebut secara eksplisit ditujukan untuk remaja Eropa. Mereka percaya bahwa meningkatnya jumlah penyerang remaja lebih berkaitan dengan cara media sosial dan platform pengiriman pesan memungkinkan remaja mengakses konten ISIS.
Serangan oleh remaja cenderung ‘diilhami’ oleh ISIS, bukan atas perintah langsung seseorang di luar negeri. Itu adalah dinamika yang sangat berbeda dari tahun 2014 ketika kelompok ISIS menguasai sebagian besar wilayah Irak dan Suriah. Saat itu, calon rekrutan sering berhubungan langsung dengan seorang pengurus di Timur Tengah yang mendorong mereka meninggalkan rumah dan pergi ke wilayah “kekhalifahan.”
Aspek-aspek gerakan saat ini kurang tersentralisasi, kata Lucas Webber, seorang peneliti di The Soufan Center, lembaga pemikir keamanan yang berbasis di New York. “Ada lebih banyak perangkat komunitas daring yang berkelanjutan dan organik.”
“Ideologi masih memegang peranan, Anda tidDalam kasus potensi serangan terhadap konser Taylor Swift di Wina, polisi Austria memeriksa jaringan digital tersangka utama Austria yang berusia 19 tahun. Polisi Jerman kemudian menahan seorang remaja berusia 15 tahun di Brandenburg yang diduga menyemangati remaja Austria itu.
Situasi serupa terungkap setelah seorang uskup Australia ditikam pada bulan April. Setelah memeriksa jaringan digital pelaku yang berusia 16 tahun itu, enam remaja lainnya didakwa. Mereka semua telah berhubungan melalui aplikasi pesan Signal dalam grup obrolan bernama Plans.
Jaringan itu tersebar dan organik, dan tidak seorang pun tahu seberapa besar mereka sebenarnya, ujar Ayad. Dia juga mengatakan bahwa platform-platform media sosial tidak melakukan cukup banyak untuk menghapus konten ekstremis.
Ada masalah lain juga. Menurut kepala badan keamanan federal Prancis dan Swiss, proses radikalisasi berlangsung lebih cepat.
Pesan dasar yang selalu disebarkan oleh kelompok ISIS masih sama: dunia menzalimi umat Islam, tetapi jika kamu bergabung, kita akan menjadi kuat bersama. Para remaja yang cenderung merasa terasing atau terpinggirkan akan mencari jati diri, atau mencari serangkaian keteraturan di tengah keruwetan dunia. Mereka bisa jadi menganggap pesan semacam ini menarik, kata para psikolog.
Ada juga faktor politik yang berperan dalam meningkatnya jumlah remaja yang teradikalisasi. Para ahli mengatakan kelompok ISIS menggunakan konflik Israel-Hamas di Gaza sebagai bukti bahwa “seluruh dunia membenci muslim” dan para pendukungnya harus membalas dendam.
Meningkatnya kelompok sayap kanan di Jerman, serta perdebatan terkini seputar imigrasi dan Islamofobia di negara tersebut, juga kemungkinan akan berdampak pada remaja yang terpinggirkan dari komunitas.
“Semakin banyak kelompok ekstremis sayap kanan, akan menimbulkan smakin banyak perilaku jihadis. Sesederhana itu,” kata analis Counter Extremism Project, Van Ostaeyen, kepada DW.
Jadi, seberapa besar ancaman para remaja yang oleh sejumlah tabloid disebut “teroris TikTok”?
“Banyak sekali ncaman,” kata Ayad. “Namun, saya rasa kita tidak berada di level yang sama seperti tahun 2015 dan 2016. Terkait anak-anak ini, rencana mereka biasanya tidak dipikirkan dengan matang. Namun, rencana itu dapat berdampak besar, jika benar-benar berhasil. Hanya perlu satu serangan yang berhasil.”

































































