Lampung – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mendorong anak muda untuk turun langsung mengisi ruang digital dengan konten yang edukatif dan menyejukkan.
Upaya tersebut dijalankan melalui program Digital Peace Creator, sebuah gerakan yang mengajak generasi muda menjadi kreator pesan perdamaian, toleransi, dan persatuan.
Kepala BNPT, Eddy Hartono, mengatakan internet harus diisi dengan narasi yang memperkuat kebangsaan dan menumbuhkan sikap saling menghargai di tengah perbedaan.
Hal itu disampaikan Eddy saat membuka kegiatan Digital Peace Creator di Lampung, Rabu (28/10/2026). Acara yang digelar bersama Pemprov Lampung dan FKPT Lampung ini diikuti 250 peserta.
Menurut Eddy, menjaga keutuhan bangsa harus dimulai dari kesadaran bahwa perbedaan adalah kekuatan, bukan ancaman. Di tengah banjir informasi, anak muda dituntut tidak hanya cerdas memilah informasi, tetapi juga aktif menciptakan ruang digital yang sehat.
“Antisipasi penyebaran paham ekstremisme ini arahan Bapak Presiden, di mana kita terus menjaga persatuan dan kesatuan RI, sehingga justru perbedaan itu menjadi kekuatan. Beda itu biasa, menghormati luar biasa,” ujar Eddy dikutip dari laman bnpt.go.id.
Ia juga menyoroti kerentanan anak muda terhadap paparan paham ekstremisme kekerasan, termasuk yang menyusup melalui platform digital dan gim daring.
Eddy menegaskan, pencegahan tidak bisa dilakukan sendiri. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, penyedia platform, keluarga, dan masyarakat. Literasi digital harus sejalan dengan upaya perlindungan anak di internet.
“Ada anak-anak terpapar oleh game online. Maka, kami bersama kementerian terkait sudah mengundang owner dari game online tersebut dan mereka sudah berkomitmen. Kemkomdigi juga telah menerbitkan PP Tunas yang merupakan amanat UU ITE, menegaskan pentingnya penyedia jasa telekomunikasi wajib melakukan perlindungan terhadap anak-anak,” jelasnya.
Melalui Digital Peace Creator, BNPT ingin menggeser peran anak muda dari sekadar pengguna menjadi produsen konten positif. Peserta tidak hanya diberi pemahaman tentang bahaya ekstremisme, tetapi juga dibekali keterampilan praktis membuat konten kreatif dan didorong ikut kompetisi pesan perdamaian.
Pendekatan ini dipilih karena edukasi di dunia digital tidak efektif jika hanya berupa imbauan formal. Pesan toleransi dan persatuan harus dikemas dengan bahasa yang dekat, visual menarik, dan relevan dengan keseharian Gen Z.
Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, turut mengajak generasi muda memanfaatkan teknologi untuk hal produktif.
“Gunakan hal yang bermanfaat untuk Lampung dan Indonesia. Jadilah generasi yang cerdas dengan menggunakan teknologi untuk memperkuat persatuan, bukan untuk memperbesar perpecahan,” katanya.
Salah satu peserta, Malika Danesh A.R., mengaku mendapat wawasan baru. “Yang menarik, kami belajar tentang paham radikalisme dan bagaimana mengolah konten menjadi baik untuk publik, yang tidak mengandung SARA dan hoaks,” ujarnya.
Selain pelatihan, kegiatan ini juga menampilkan Gala Premier film Ageman, yang mengangkat kisah nyata Ken Setiawan, mantan pelaku ekstremisme yang kini kembali ke NKRI.
Bagi BNPT, pemanfaatan film dan kisah nyata menjadi cara untuk mendekatkan pesan pencegahan agar lebih menyentuh.
Keberhasilan program ini, menurut BNPT, tidak hanya diukur dari jumlah penonton, tetapi dari tumbuhnya sikap kritis, kemampuan menyaring hoaks, dan partisipasi aktif anak muda dalam menjaga ruang digital yang damai.
































































