Jakarta – Para pemimpin negara-negara Barat mendesak Israel untuk menghentikan serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian PBB di perbatasan Lebanon. Presiden AS Joe Biden mengungkapkan bahwa ia telah meminta Tel Aviv, sebagai sekutu, untuk menghentikan tindakan tersebut.
Laporan terbaru dari Pasukan Interim PBB di Lebanon (UNIFIL) menyatakan bahwa setidaknya lima tentara mereka terluka akibat serangan militer Israel yang bertempur melawan Hizbullah di wilayah selatan Lebanon. Di antara yang terluka terdapat dua tentara nasional Indonesia (TNI) yang tergabung dalam UNIFIL.
UNIFIL menuduh militer Israel secara “sengaja” menembaki posisi pasukan mereka di Lebanon bagian selatan.
Kritik dan kecaman terhadap Israel terus mengalir terkait serangan yang melukai pasukan penjaga perdamaian PBB. Sejumlah pemimpin Barat telah mengeluarkan pernyataan untuk mendesak Israel menghentikan serangan tersebut.
Biden, ketika ditanya oleh wartawan di Gedung Putih, menegaskan bahwa ia telah meminta Israel untuk berhenti menyerang pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon. “Tentu saja, secara positif,” jawabnya singkat.
Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan bahwa pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon “secara sengaja ditargetkan” dan menyebut tindakan tersebut “tidak dapat diterima”.
Kementerian Luar Negeri Prancis juga telah memanggil Duta Besar Israel di Paris untuk mengingatkan bahwa insiden yang melukai prajurit PBB di Lebanon merupakan “pelanggaran serius terhadap hukum internasional yang harus segera dihentikan”.
Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, secara tegas mengutuk serangan Israel yang melukai pasukan penjaga perdamaian PBB, menyebutnya “tidak bisa diterima” dan melanggar resolusi PBB. Italia diketahui memiliki lebih dari 1.000 tentara yang terlibat dalam misi UNIFIL.

































































