Bogor — Di tengah besarnya ambisi pemerintah menjalankan program Makan Bergizi Gratis (MBG), IPB University menilai masih ada sejumlah persoalan mendasar yang harus segera dibenahi agar program ini berjalan berkelanjutan.
Persoalan itu mulai dari tata kelola, standar keamanan pangan, hingga lemahnya rantai pasok bahan baku yang dinilai masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Karena itu, IPB memilih tidak sekadar menjadi pengamat, melainkan ikut terlibat langsung dalam memperkuat fondasi program nasional tersebut.
Melalui Center of Excellence (CoE) Pemenuhan Gizi Nasional bersama Kementerian PPN/Bappenas, Badan Gizi Nasional, dan UNICEF, IPB menawarkan dukungan berbasis riset, pengawasan mutu pangan, hingga pemberdayaan pemasok lokal.
Direktur Kerja Sama, Komunikasi, dan Pemasaran IPB, Alfian Helmi, menilai tantangan MBG tidak bisa dianggap sepele.
“Dari ribuan SPPG yang terdaftar di Badan Gizi Nasional, belum semua memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi. Belum lagi persoalan konsistensi mutu gizi, ketergantungan pada rantai pasok yang rapuh, minimnya pengawasan berbasis data, dan lemahnya pemberdayaan komunitas lokal sebagai pemasok,” ujarnya, Kamis (21/5/2026).
Menurut Alfian, sebagai kampus berbasis sains pangan dan pertanian, IPB merasa memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan hasil riset kampus bisa diterapkan langsung dalam program sebesar MBG.
“Kami tidak ingin hanya menjadi penonton,” katanya.
Di sisi operasional, pembangunan dan pengelolaan dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dilakukan oleh PT BLST melalui yayasan berbadan hukum yang dibentuk khusus.
Langkah itu, kata Alfian, sengaja dibuat agar tata kelola akademik kampus tetap terpisah dari aktivitas bisnis dan operasional lapangan.
Direktur PT BLST, Luhur Budijarso, menegaskan model yang sedang dibangun bukan sekadar dapur produksi makanan.
“Kami tidak hanya membangun dapur, kami membangun rantai pasoknya,” ujarnya.
Menurut Luhur, pendekatan ini diharapkan dapat menjadi model nasional yang bisa direplikasi di berbagai daerah untuk mendukung keberhasilan MBG secara jangka panjang.
Saat ini, PT BLST tengah menyiapkan dua dapur MBG di Ciampea dan Sukajaya. Salah satunya disebut sudah siap beroperasi dan akan melayani ribuan penerima manfaat di wilayah sekitar.
Bagi IPB, keberhasilan MBG bukan hanya soal jumlah makanan yang dibagikan setiap hari, tetapi tentang bagaimana membangun sistem pangan nasional yang kuat, aman, dan berkelanjutan.
































































