Jakarta – Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menuduh kelompok Hizbullah di Lebanon melanggar ketentuan gencatan senjata. Katz memperingatkan bahwa jika pelanggaran tersebut terus berlanjut, Israel akan mengambil tindakan untuk menjaga keamanan warganya.
Dilansir AFP, Minggu (5/1/2025), Katz memberikan pernyataan ini setelah mengunjungi komando militer di wilayah utara Israel. Tuduhan itu muncul di tengah klaim serupa dari pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, yang menuduh Israel melanggar kesepakatan gencatan senjata.
Katz menyatakan bahwa Hizbullah belum memenuhi persyaratan untuk mundur ke utara Sungai Litani di Lebanon selatan, sesuai kesepakatan gencatan senjata. “Jika persyaratan ini tidak terpenuhi, tidak akan ada kesepakatan, dan Israel akan bertindak untuk memastikan keamanan warga di wilayah utara,” tegasnya.
Katz juga menyoroti bahwa ketentuan lain, seperti pembongkaran persenjataan Hizbullah dan penghentian infrastruktur teroris di wilayah tersebut oleh tentara Lebanon, belum terlaksana.
“Kami tidak akan membiarkan munculnya ancaman baru terhadap masyarakat di wilayah utara Israel,” tambah Katz dalam pernyataan resmi.
Sementara itu, pada Sabtu (4/1/2025), Naim Qassem menuduh Israel melanggar gencatan senjata dan menyatakan bahwa Hizbullah siap merespons jika Israel tidak memenuhi ketentuan dalam batas waktu 60 hari.
“Kami telah memberikan kesempatan untuk mencegah pelanggaran Israel dan melaksanakan perjanjian. Namun, kami akan bersabar dalam batas waktu yang ada,” ujar Qassem.
Gencatan senjata ini diberlakukan sejak 27 November 2024, setelah dua bulan konflik besar antara Israel dan Hizbullah. Perjanjian tersebut mencakup penarikan pasukan Israel dari Lebanon selatan dalam 60 hari, penempatan tentara Lebanon bersama pasukan penjaga perdamaian PBB di wilayah tersebut, dan penarikan Hizbullah ke utara Sungai Litani.
Sebuah komite yang terdiri dari perwakilan Israel, Lebanon, Prancis, AS, dan pasukan penjaga perdamaian PBB (UNIFIL) bertugas memantau pelanggaran gencatan senjata. UNIFIL sendiri beberapa kali menuding Israel melanggar ketentuan perjanjian.

































































