Timika – Ramadhan 1447 Hijriah di Kabupaten Mimika bukan sekadar momentum ibadah, tetapi juga ruang mempertegas identitas daerah sebagai “Kota Harmoni”. Seruan menjaga toleransi dan persaudaraan lintas iman kembali digaungkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Mimika di tengah suasana masyarakat yang majemuk.
Ketua MUI Mimika, KH Muhammad Amin AR, menegaskan bahwa kerukunan yang selama ini terjalin menjadi fondasi kuat dalam menjaga stabilitas sosial. Menurutnya, kehidupan beragama di Mimika telah lama berjalan dalam bingkai saling menghormati, termasuk saat perayaan hari-hari besar keagamaan.
“Di sini toleransi itu nyata dan terasa. Kalau pun muncul gangguan keamanan, biasanya bisa segera diselesaikan dengan baik,” ujarnya.
Predikat sebagai daerah paling harmonis dari 514 kabupaten/kota se-Indonesia semakin mengukuhkan posisi Mimika sebagai contoh praktik toleransi di tingkat nasional. Penghargaan Harmony Award 2025 diserahkan langsung oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar di Jakarta pada 28 November 2025.
Menurut Amin, capaian tersebut bukan sekadar simbol, melainkan tanggung jawab bersama untuk terus merawat keberagaman. Karena itu, ia mengajak umat Islam menjadikan Ramadhan sebagai momen memperkuat kualitas ibadah sekaligus kepedulian sosial.
Selain menjalankan puasa, umat Islam diimbau menghidupkan shalat Tarawih, memperbanyak membaca Al Quran, menunaikan zakat fitrah, serta meningkatkan infak dan sedekah. Nilai-nilai spiritual tersebut diharapkan berdampak langsung pada keharmonisan sosial di tengah masyarakat lintas agama.
Untuk menyemarakkan bulan suci, MUI Mimika bersama Bimas Islam Kementerian Agama dan Forum Mubaligh Mimika menyiapkan 92 mubalig yang akan mengisi ceramah di masjid dan mushalla selama 30 hari penuh. Materi ceramah disusun dengan tema berbeda setiap malam agar jamaah mendapatkan perspektif yang beragam dan tidak monoton.
Di sisi lain, dukungan pemerintah daerah turut memperkuat suasana kondusif Ramadhan. Pemerintah Kabupaten Mimika menerbitkan surat edaran yang melarang penjualan minuman keras serta membatasi jam operasional tempat hiburan malam. Kebijakan tersebut akan dikawal oleh aparat Satpol PP di lapangan.
Bagi MUI, sinergi antara tokoh agama, pemerintah, dan masyarakat menjadi kunci menjaga Mimika tetap sebagai kota yang damai. Ramadhan pun diharapkan tidak hanya menghadirkan ketenangan spiritual, tetapi juga mempertegas komitmen bersama dalam merawat harmoni di tanah Papua Tengah. (Ant)

































































