Bangko – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai menunjukkan dampak yang jauh melampaui sektor kesehatan. Di Kabupaten Merangin, program ini diproyeksikan menjadi penggerak utama ekonomi desa dengan potensi perputaran uang hingga Rp57 miliar setiap bulan.
Hal tersebut disampaikan Bupati M. Syukur saat menghadiri acara buka puasa bersama ratusan kepala desa, anggota BPD, dan organisasi kepemudaan di Bangko, Selasa (17/3/2026).
Menurutnya, MBG tidak sekadar berfungsi sebagai program pemenuhan gizi bagi pelajar, tetapi juga membuka ruang ekonomi baru yang langsung menyentuh masyarakat di tingkat bawah.
Ia menjelaskan, satu titik pelaksanaan MBG dapat menyerap anggaran sekitar Rp1 miliar per bulan. Dengan rencana 57 titik di Merangin, total dana yang beredar diperkirakan mencapai Rp57 miliar, dengan sebagian besar mengalir ke masyarakat melalui pembelian bahan pangan.
“Sekitar 63 persen anggaran itu akan dibelanjakan langsung ke masyarakat. Ini peluang besar bagi petani, peternak, dan pelaku usaha lokal,” ujarnya.
Bupati menekankan pentingnya memastikan rantai pasok tetap berbasis lokal. Ia meminta agar kebutuhan seperti telur, daging, ikan, sayuran, hingga buah-buahan dipenuhi dari produksi dalam daerah, bukan dari luar.
Langkah ini dinilai krusial agar masyarakat Merangin tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga pelaku utama dalam ekosistem ekonomi yang terbentuk.
“Kalau desa mampu memproduksi sendiri kebutuhan itu, maka perputaran ekonomi akan terjadi di desa. Dampaknya akan langsung dirasakan masyarakat,” jelasnya.
Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, pemerintah daerah mendorong peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Bersama sebagai pengelola distribusi dan suplai bahan pangan program MBG.
Melalui skema ini, desa diharapkan mampu membangun kemandirian ekonomi sekaligus memperkuat kolaborasi antarwilayah.
“Ini bukan sekadar program pemerintah, tapi peluang bisnis kolektif. Kita ingin desa bergerak bersama dan tumbuh secara mandiri,” tegasnya.
Dengan pendekatan tersebut, MBG diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi desa secara berkelanjutan.

































































