Takengon – Di tengah derasnya arus informasi digital yang kian memengaruhi pola pikir generasi muda, upaya memperkuat ideologi Pancasila kembali disuarakan dari daerah. Kali ini, Yayasan Maqaman Mahmuda menggelar seminar kebangsaan sebagai ruang refleksi sekaligus konsolidasi nilai-nilai kebangsaan.
Kegiatan yang berlangsung di aula utama pada Selasa (28/4/2026) tersebut menghadirkan berbagai perspektif, mulai dari militer, akademisi, hingga perwakilan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila. Fokus utamanya adalah membaca ulang posisi Pancasila di tengah perubahan zaman yang serba digital.
Komandan Komando Distrik Militer 0106 Aceh Tengah, Raden Herman Sasmita, menekankan bahwa tantangan kebangsaan saat ini tidak lagi bersifat konvensional. Menurutnya, rasa cinta tanah air harus ditanamkan sejak dini agar generasi muda memiliki ketahanan menghadapi pengaruh global.
Sementara itu, Ketua Yayasan Maqaman Mahmuda, Abdiansya Linge, menggarisbawahi peran strategis santri dalam menjaga keseimbangan antara nilai keagamaan dan kebangsaan. Ia menilai santri dapat menjadi jembatan yang merawat persatuan di tengah perbedaan, khususnya melalui penguatan ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathaniyah.
Dari sisi kebijakan nasional, perwakilan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, Zulkarnain, mengingatkan bahwa masa depan Indonesia sangat bergantung pada kualitas generasi mudanya. Ia mendorong agar Pancasila tidak hanya dipahami secara teoritis, tetapi dijadikan pedoman dalam setiap tindakan.
“Jika generasi muda menjadikan Pancasila sebagai landasan berpikir, maka fondasi menuju Indonesia Emas 2045 akan semakin kuat,” ujarnya dikutip dari laman rri.co.id.
Lebih dari sekadar forum diskusi, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa penguatan ideologi tidak bisa ditunda. Di tengah dinamika global, nilai-nilai persatuan dan kebangsaan perlu terus dihidupkan agar tetap relevan dalam kehidupan sehari-hari.
Seminar ini sekaligus menunjukkan bahwa daerah memiliki peran penting dalam menjaga arah ideologi bangsa, tidak hanya sebagai pelaksana, tetapi juga sebagai penggerak nilai-nilai Pancasila di akar rumput.

































































