Jakarta – Kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto ke Nganjuk akhir pekan lalu diwarnai momen sederhana namun menyentuh. Di sela agenda resminya, Prabowo menerima sepucuk surat dari seorang siswa sekolah dasar berusia 11 tahun yang ingin menyampaikan rasa terima kasih secara langsung.
Pengirim surat itu adalah Alkhalifi Muhammad Marfen, siswa kelas 5 di MI Darussalam Sidoarjo. Di tengah keramaian kunjungan presiden, Marfen berhasil menyerahkan surat yang telah ia siapkan khusus untuk orang nomor satu di Indonesia itu.
Isi suratnya sederhana, tetapi penuh makna. Marfen mengaku senang karena kini dirinya bisa menikmati program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah.
“Terima kasih Bapak atas makan bergizi gratis. Saya senang menerimanya, karena makanannya bergizi,” tulis Marfen.
Bagi Marfen, manfaat program itu bukan sekadar tambahan menu makan siang di sekolah. Ia merasakan langsung perhatian negara terhadap anak-anak seperti dirinya.
Tak hanya menyampaikan rasa terima kasih, bocah asal Sidoarjo itu juga menuliskan harapan sederhana: bertemu langsung dengan Presiden Prabowo.
“Saya ingin bertemu dengan Bapak Presiden dengan ikut upacara 17 Agustus di Istana Negara, karena selama ini hanya bisa melihat di TV,” tulisnya lagi.
Surat tersebut ditutup dengan doa singkat namun tulus.
“Terima kasih Bapak Presiden, sehat selalu.”
Momen itu menjadi gambaran bagaimana program MBG mulai dirasakan langsung manfaatnya oleh para pelajar di berbagai daerah. Program yang digagas pemerintah tersebut memang menyasar siswa mulai dari jenjang PAUD hingga SMA, sekaligus menjangkau kelompok rentan lain seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Selain menerima surat dari Marfen, kunjungan Presiden ke Nganjuk juga diisi sejumlah agenda strategis, mulai dari peresmian Museum Ibu Marsinah sebagai bentuk penghormatan terhadap pahlawan nasional Marsinah, hingga peluncuran operasional 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang tersebar di berbagai daerah.
Di tengah agenda kenegaraan yang padat, sepucuk surat dari seorang anak itu justru menjadi pengingat bahwa kebijakan negara pada akhirnya dinilai dari seberapa besar manfaatnya dirasakan langsung oleh rakyat—bahkan oleh seorang siswa kelas lima sekolah dasar.
































































