MADINAH – Majelis Ulama Indonesia (MUI) terus menguatkan peran diplomasi dakwah di tingkat global. Melalui program Pengembangan Wawasan Dakwah Internasional (PWDI-MUI), delegasi pimpinan MUI menggelar kunjungan persahabatan ke Mesir dan Arab Saudi.
Salah satu agenda utamanya adalah memperkenalkan konsep Islam Wasathiyah atau Islam moderat yang menjadi arah utama dakwah di Indonesia kepada civitas akademika Universitas Islam Madinah.
Wakil Ketua Umum MUI, KH M Cholil Nafis, menyampaikan bahwa gagasan tersebut mendapat sambutan hangat di Madinah. Hal itu ia ungkapkan melalui akun Instagram pribadinya @cholilnafis, Kamis (5/11/2026).
Dalam kunjungan itu, Kiai Cholil bersama rombongan berdiskusi langsung dengan Rektor Universitas Islam Madinah, Dr. Saleh bin Ali Al-Aqla, beserta jajaran dekan fakultas.
“Di Madinah kami mempresentasikan Dakwah Islam Wasathiyah yang menjadi keputusan dan arah dakwah umat Islam di Indonesia,” ujar Kiai Cholil.
Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah tersebut menjelaskan, pengalaman Indonesia dalam merawat harmoni di tengah keberagaman dinilai relevan untuk dibagikan kepada dunia Islam. Model moderasi beragama ini diharapkan bisa menjadi solusi untuk meredam ketegangan sektarian yang masih terjadi di berbagai kawasan.
Pertemuan tidak hanya berhenti pada tukar gagasan. Delegasi MUI dan pihak Universitas Islam Madinah juga merumuskan seruan bersama untuk masa depan peradaban Islam.
Terdapat tiga poin utama yang disepakati. Pertama, pentingnya memperkuat persatuan umat Islam. MUI menekankan soliditas antarnegara Islam adalah kewajiban peradaban. Umat Islam diajak mengesampingkan perbedaan dan menjauhi retorika sektarian yang memicu konflik.
Kedua, terkait resolusi konflik dan kedaulatan negara. MUI menyerukan penghentian segala bentuk sengketa dan agresi bersenjata yang mengancam stabilitas kawasan.
“Dalam hal ini, MUI dengan tegas mengecam serangan kelompok Houthi terhadap Kerajaan Arab Saudi, serta menekankan perlunya penghormatan penuh terhadap kedaulatan negara dengan mengutamakan dialog dan diplomasi,” kata Kiai Cholil.
Ketiga, seruan untuk fokus pada pembangunan peradaban. Kiai Cholil mengajak negara-negara Islam menyatukan kekuatan untuk memajukan pendidikan, riset, teknologi, dan ekonomi, serta memperkuat peran Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).
Menurutnya, langkah ini mendesak agar umat Islam kembali mengambil peran sentral dalam mewujudkan perdamaian dan stabilitas global.
































































