PANGKALPINANG – Ancaman paham intoleran dan radikalisme kini menyasar pelajar tidak hanya lewat pertemuan tertutup, tetapi juga melalui ruang digital seperti media sosial, game online, dan aplikasi chatting. Menjawab tantangan tersebut, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memperkuat benteng ideologi di kalangan siswa.
Sosialisasi Pemahaman Ideologi Pancasila dan Pencegahan Radikalisme-Terorisme digelar di Aula SMA Negeri 2 Pangkalpinang, Kamis (5/11/2026) mulai pukul 09.00 WIB. Kegiatan ini diikuti 100 siswa SMA Negeri 2 Pangkalpinang.
Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Bangka Belitung, Dr. Subardi, M.KPd., menjelaskan pola perekrutan kelompok ekstrem telah bertransformasi. Jika dulu mengandalkan jaringan kekeluargaan, pertemanan, dan tokoh agama secara tertutup, kini propaganda massif dilakukan lewat website, media sosial, gim daring, hingga pesan instan.
“Ruang digital ini rawan disalahgunakan untuk menjangkau anak-anak dan remaja. Pelajar harus mampu mengenali konten yang mengandung intoleransi, ajakan kekerasan, dan yang bertentangan dengan Pancasila,” ujar Subardi.
Ia memaparkan perbedaan konsep intoleransi, radikalisme, dan terorisme serta menjelaskan peran FKPT dalam membantu masyarakat mendeteksi ancaman IRET (Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, Terorisme).
Subardi juga mengungkap hasil survei moderasi beragama yang dilakukan FKPT Babel bersama Ditintelkam Polda Babel pada 2021 di kalangan siswa dan guru. Hasilnya menunjukkan penguatan wawasan kebangsaan dan moderasi beragama di sekolah masih sangat diperlukan.
Untuk itu, sekolah diminta lebih peka terhadap perubahan perilaku tidak biasa pada siswa. Pencegahan, kata dia, harus dilakukan melalui pendidikan toleransi, komunikasi guru-siswa yang intens, serta kolaborasi pentahelix yang melibatkan keluarga dan masyarakat. Pencegahan tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah dan pemerintah saja.
Sementara itu, Sekretaris Kesbangpol Babel, Riza Aryani, menegaskan sekolah bukan hanya tempat mengejar nilai akademik, tetapi juga pembentuk karakter dan wawasan kebangsaan.
Ia mengingatkan intoleransi adalah pintu masuk radikalisme. Pelajar harus dibekali kemampuan menghargai perbedaan dan tidak mudah terpengaruh ajakan yang bertentangan dengan nilai kebangsaan.
“Pegangan generasi muda harus jelas: Pancasila, NKRI, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika,” tegas Riza.
Selain ideologi, Riza menekankan pentingnya literasi digital. Di tengah banjir informasi, siswa harus cakap membedakan fakta dari hoaks, disinformasi, dan propaganda agar tidak mudah terprovokasi.
Ia juga mendorong sekolah menjadi ruang dialog yang aman bagi siswa untuk menyampaikan pendapat. Sinergi antara pemerintah daerah, FKPT, aparat keamanan, tokoh agama, dan masyarakat harus diperkuat agar pencegahan menjangkau seluruh lingkungan pendidikan.
Kepala SMA Negeri 2 Pangkalpinang, Yunisfu, M.Pd., menyambut baik kegiatan tersebut. Menurutnya, derasnya arus informasi menuntut pelajar untuk lebih cerdas dan kritis dalam menyaring konten.
“Tidak semua informasi di medsos itu positif. Siswa harus waspada terhadap provokasi, hasutan, dan berita bohong yang bisa memengaruhi cara berpikir mereka,” ujarnya.
Melalui sosialisasi ini, Kesbangpol Babel berharap nilai Pancasila dan semangat kebangsaan semakin kokoh di kalangan generasi muda, sehingga sekolah menjadi ruang pembentukan karakter yang toleran dan kritis di era digital.


























































