Jakarta – Sudah lebih dari satu dekade David Beckham gantung sepatu, namun pesonanya di dunia masih bersinar. Legenda Manchester United itu kini dikenal bukan hanya sebagai ikon sepak bola, tetapi juga sebagai pengusaha sukses dengan kekayaan mencapai sekitar Rp 8,3 triliun.
Beckham membangun gurita bisnis di berbagai sektor: olahraga, hiburan, mode, hingga kesehatan. Salah satu tonggak utamanya adalah kepemilikan klub Inter Miami CF, tim Major League Soccer (MLS) Amerika Serikat yang ia dirikan pada 2018. Keberhasilan mendatangkan Lionel Messi membuat nama Inter Miami melambung dan pendapatannya meningkat pesat — dari sekitar 60 juta dolar AS pada 2022 menjadi hampir 180 juta dolar AS pada 2025.
Tak berhenti di dunia sepak bola, Beckham juga merambah dunia hiburan dengan mendirikan Studio 99, rumah produksi dan agensi kreatif yang menghasilkan berbagai film dokumenter dan serial, termasuk dokumenter “Beckham” yang tayang di Netflix. Hanya dalam beberapa tahun, Studio 99 mampu membukukan pendapatan lebih dari Rp 200 miliar.
Selain itu, melalui DB Ventures, Beckham mengelola seluruh portofolio kerja samanya, termasuk kontrak seumur hidup dengan Adidas senilai 160 juta dolar AS yang sudah berjalan sejak awal kariernya di Manchester United.
Perusahaan induk dari seluruh usahanya, DRJB Holdings, mencatat pendapatan hingga 1,5 triliun rupiah pada 2024. Meski kini hanya memegang 45 persen saham, Beckham tetap menjadi figur sentral dan menerima dividen besar setelah menjual sebagian kepemilikan ke Authentic Brands Group, induk perusahaan Reebok.
Di bidang gaya hidup, Beckham meluncurkan merek kacamata Eyewear by David Beckham bersama Safilo Group, serta parfum David Beckham Homme bekerja sama dengan perusahaan kecantikan global Coty. Kedua produk itu berada di bawah payung Seven Global, yang juga mengelola lini fesyen dan gaya hidup Beckham dengan pendapatan mencapai ratusan miliar rupiah setiap tahun.
Tak ketinggalan, Beckham ikut mendirikan merek suplemen IM8, menggandeng perusahaan bioteknologi Prenetics. Ia juga aktif berinvestasi di Guild Esports dan memiliki 10 persen saham klub Salford City, bersama rekan-rekan “Class of ‘92” dari Manchester United seperti Gary Neville, Ryan Giggs, dan Paul Scholes.
Meski dikelilingi kemewahan, Beckham tetap memegang sisi sosialnya. Melalui 7 Fund for UNICEF, yang didirikan pada 2015, ia fokus membantu anak-anak di seluruh dunia agar mendapat akses terhadap gizi, pendidikan, dan perlindungan. Indonesia menjadi salah satu negara penerima manfaat, terutama dalam upaya mengurangi perundungan dan angka putus sekolah.
Kini, David Beckham bukan sekadar legenda sepak bola. Ia telah menjelma menjadi simbol transformasi diri — dari pemain lapangan hijau menjadi pengusaha global yang menyeimbangkan bisnis, gaya hidup, dan kepedulian sosial.































































