Jakarta – Pemerhati masalah internasional, Erlangga Pratama, menilai keputusan Presiden Prabowo Subianto untuk tetap melanjutkan program Makan Bergizi Gratis di tengah efisiensi anggaran merupakan langkah strategis yang menunjukkan keberpihakan pada kebutuhan dasar masyarakat.
Menurut Erlangga, kebijakan tersebut mencerminkan komitmen pemerintah dalam menjaga program yang berdampak langsung terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia, terutama di tengah tekanan ekonomi global yang tidak menentu.
“Program Makan Bergizi Gratis bukan sekadar kebijakan sosial, tetapi merupakan investasi jangka panjang untuk memperbaiki kualitas generasi mendatang,” ujarnya dikutip dari tulisannya di neraca.co.id, Kamis (26/3/2026).
Ia menilai, di saat banyak negara menghadapi tekanan fiskal dan cenderung mengurangi belanja sosial, langkah pemerintah Indonesia justru mempertahankan program tersebut menunjukkan arah kebijakan yang berorientasi pada kepentingan rakyat.
Erlangga juga menyoroti bahwa persoalan gizi, termasuk stunting, masih menjadi tantangan serius di Indonesia. Karena itu, kehadiran program ini dinilai sangat relevan dan mendesak untuk terus dilanjutkan.
Selain itu, ia mengungkapkan bahwa program serupa telah diterapkan di berbagai negara dan mendapatkan dukungan dari lembaga internasional seperti World Food Programme. Berdasarkan berbagai kajian, investasi pada program gizi dinilai mampu memberikan dampak berlipat terhadap pembangunan manusia.
“Setiap anggaran yang dikeluarkan untuk pemenuhan gizi sejatinya adalah investasi, bukan beban. Dampaknya akan terlihat dalam jangka panjang, baik dari sisi kesehatan maupun produktivitas,” katanya.
Terkait berbagai kritik terhadap pelaksanaan program, Erlangga menilai hal tersebut merupakan bagian dari dinamika yang wajar dalam kebijakan berskala besar. Namun, ia menekankan pentingnya membedakan antara kritik konstruktif dan narasi yang tidak proporsional.
Menurut dia, langkah pemerintah yang menindak pelanggaran di lapangan, termasuk menghentikan operasional layanan yang tidak memenuhi standar, justru menunjukkan keseriusan dalam menjaga kualitas program.
“Perbaikan terus dilakukan. Ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak menutup mata terhadap kekurangan, tetapi berupaya memperkuat tata kelola program,” ujarnya.
Erlangga juga menyoroti adanya upaya sebagian pihak yang memanfaatkan isu operasional untuk membangun opini negatif terhadap program tersebut. Ia menilai masyarakat perlu lebih cermat dalam menyikapi berbagai informasi yang beredar.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa program Makan Bergizi Gratis memiliki potensi besar dalam mendorong pemerataan kesejahteraan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, dan ibu menyusui.
Menurutnya, keberhasilan program ini tidak hanya ditentukan oleh pemerintah, tetapi juga membutuhkan dukungan masyarakat serta pengawasan yang berkelanjutan.
“Program ini harus dilihat sebagai upaya bersama untuk memperbaiki masa depan bangsa. Konsistensi dan penguatan sistem menjadi kunci agar manfaatnya benar-benar dirasakan,” katanya.
Ia pun berharap program tersebut dapat terus dilanjutkan dengan penyempurnaan di berbagai aspek, sehingga mampu menjawab persoalan mendasar yang selama ini dihadapi masyarakat.

































































