Jakarta – Kementerian Agama terus memperkuat implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di madrasah dan pesantren dengan mendorong transformasi peran lembaga pendidikan keagamaan sebagai bagian dari ekosistem utama.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Amien Suyitno, menegaskan penguatan regulasi menjadi langkah awal yang krusial agar program berjalan optimal dan berkelanjutan.
“Regulasi harus komprehensif agar mampu mengakomodasi seluruh ekosistem MBG di lingkungan Kemenag,” ujarnya dalam FGD Rancangan KMA MBG.
Selain regulasi, Kemenag juga menaruh perhatian pada standar layanan, mulai dari higienitas, keamanan pangan, hingga percepatan distribusi, mengingat masih banyak madrasah dan pesantren yang belum tersentuh program tersebut.
Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam, Arskal Salim, menyoroti pentingnya tata kelola modern berbasis digital sebagai kunci keberhasilan program.
Menurutnya, sistem distribusi harus terjadwal dengan baik, dilengkapi SOP darurat serta mitigasi risiko yang jelas.
“Digitalisasi penting untuk monitoring, layanan, hingga pengelolaan aduan agar semuanya terintegrasi,” jelasnya.
Tak hanya itu, edukasi kepada siswa terkait gizi dan pemanfaatan bahan pangan lokal juga menjadi fokus. Langkah ini dinilai tidak hanya meningkatkan kualitas konsumsi, tetapi juga mendorong ekonomi daerah.
Sementara itu, Direktur Pesantren, Basnang Said, menekankan bahwa pesantren harus menjadi aktor utama dalam rantai pasok MBG.
“Pesantren tidak hanya sebagai penerima manfaat, tetapi juga pemasok. Bahkan dapur MBG harus berada di lingkungan pesantren,” tegasnya.
Ia menilai program ini berpotensi menggerakkan berbagai sektor ekonomi pesantren, mulai dari perikanan, peternakan, hingga perkebunan. Kolaborasi dengan koperasi dan perguruan tinggi juga didorong untuk memperkuat ekosistem tersebut.
Untuk menjaga kualitas pelaksanaan, Kemenag memperkuat sistem monitoring dan evaluasi dari tingkat pusat hingga daerah. Langkah ini diharapkan memastikan program berjalan efektif sekaligus memberikan manfaat nyata bagi santri dan siswa madrasah.
Dengan pendekatan yang terintegrasi—mulai dari regulasi, digitalisasi, hingga pemberdayaan ekonomi—Kemenag optimistis program MBG dapat menjadi penggerak peningkatan kualitas gizi sekaligus transformasi pendidikan keagamaan di Indonesia.

































































