Jakarta — Di tengah sulitnya persaingan kerja bagi generasi muda, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ternyata bukan hanya menghadirkan manfaat bagi penerima bantuan, tetapi juga membuka jalan baru bagi mereka yang sedang mencari harapan.
Hal itu dirasakan langsung oleh Bulqis, seorang perempuan Generasi Z asal Makassar, yang sempat berada di titik jenuh setelah berbulan-bulan mencari pekerjaan tanpa hasil.
Sebagai anak muda, Bulqis mengaku tidak nyaman hanya berdiam diri di rumah. Hari-harinya kala itu dipenuhi rasa cemas dan ketidakpastian.
“Senang karena ada kegiatan setiap hari,” kata Bulqis saat menceritakan perubahan hidupnya.
Kesempatan itu datang ketika ia bergabung dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Biringkanaya 03 di Makassar, salah satu dapur pelaksana Program MBG. Tempat yang awalnya ia anggap sekadar ruang kerja, perlahan berubah menjadi ruang belajar tentang kehidupan.
Di dapur itu, Bulqis menemukan ritme baru. Hari-harinya kini diisi aktivitas sejak subuh, bekerja bersama tim lintas usia, menghadapi tekanan pekerjaan, sekaligus belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.
“Seru karena bisa ketemu banyak orang dan dapat banyak pengalaman,” ujarnya.
Meski begitu, perjalanan tersebut tidak selalu mudah. Tuntutan pekerjaan fisik, jadwal padat, hingga kewajiban membagi waktu dengan kuliah menjadi tantangan tersendiri. Ada masa-masa lelah datang menghampiri, tetapi Bulqis memilih bertahan.
“Ikhlas dan sabar saja, nanti terasa mengalir,” tuturnya.
Dari dapur sederhana itu, Bulqis justru menemukan pelajaran besar tentang ketekunan. Ia belajar bahwa bertahan dan terus bergerak, meski dalam keadaan sulit, perlahan akan membentuk karakter seseorang.
Kini, ia merasa menjadi pribadi yang berbeda—lebih disiplin, lebih mandiri, dan lebih percaya diri menghadapi masa depan.
Bagi Bulqis, Program MBG bukan sekadar program distribusi makanan bergizi. Lebih dari itu, program ini menjadi ruang pemberdayaan bagi anak muda untuk belajar, bekerja, dan bertumbuh.
Ada satu momen yang paling membekas baginya: saat ia sadar bahwa pekerjaan yang dijalani setiap hari ternyata memberi dampak nyata, bukan hanya bagi anak-anak penerima manfaat, tetapi juga bagi dirinya sendiri.
“Dari dapur ini, saya bukan cuma dapat penghasilan. Saya juga menemukan makna,” katanya.
Kisah Bulqis menjadi gambaran bahwa bagi sebagian anak muda Indonesia, kesempatan sekecil apa pun bisa menjadi titik balik besar—asal ada ruang untuk mencoba dan kemauan untuk terus melangkah. (Ant)

































































