Jambi — Ancaman radikalisme di Indonesia terus berubah wajah. Jika sebelumnya banyak berkembang melalui ruang-ruang fisik, kini penyebaran paham intoleransi dan ekstremisme justru semakin masif bergerak di ruang digital, menyasar masyarakat melalui media sosial dan platform daring.
Membaca perubahan pola tersebut, Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme Provinsi Jambi bergerak cepat. Melalui forum Kajian Senin Kamis yang digelar secara virtual, Kamis (21/5), FKPT Jambi membedah hasil Survei Indeks Potensi Radikalisme (IPR) 2025 sebagai pijakan untuk menyusun strategi kontra-narasi yang lebih presisi dan relevan dengan kondisi daerah.
Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme Provinsi Jambi, Dr. H. Abd. Rahman, menegaskan bahwa data survei bukan sekadar angka statistik, melainkan alat membaca kondisi sosial masyarakat secara nyata.
“Bagi kami, survei ini adalah radar untuk memahami dinamika masyarakat. Dari sini kita bisa mengetahui di mana titik rawan yang perlu segera diperkuat,” ujarnya.
Ia menilai upaya pencegahan radikalisme tidak mungkin dilakukan oleh satu pihak saja. Karena itu, pelibatan sekolah, kampus, tokoh agama, komunitas masyarakat, hingga aparat keamanan dinilai menjadi kunci utama memperkuat ketahanan sosial.
“Menjaga kedamaian adalah tanggung jawab bersama. Pendekatannya harus edukatif, dialogis, dan dilakukan sejak dini,” tambahnya.
Forum yang difasilitasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme itu menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari akademisi, TNI/Polri, Badan Intelijen Negara Daerah, Kesbangpol, hingga Detasemen Khusus 88 Antiteror. Kehadiran lintas sektor ini mempertegas bahwa penanganan terorisme di daerah harus dilakukan secara komprehensif.
Dalam pemaparannya, Peneliti FKPT Jambi Dr. Mochammad Farisi mengungkapkan bahwa Indeks Potensi Radikalisme Provinsi Jambi tahun 2025 tercatat berada di angka 13,3 atau mengalami kenaikan tipis dibandingkan tahun sebelumnya.
“Angkanya memang belum tinggi, tetapi tren kenaikan ini harus menjadi alarm bersama,” katanya.
Farisi menyoroti kelompok usia muda sebagai segmen paling rentan, terutama karena tingginya intensitas penggunaan internet di kalangan Generasi Z.
“Penetrasi internet Gen Z di Jambi sudah mencapai 93 persen. Mereka mengakses konten keagamaan terutama melalui TikTok, Instagram, dan YouTube. Ini peluang sekaligus tantangan,” jelasnya.
Menurutnya, ruang digital saat ini kerap membentuk echo chamber atau ruang gema, di mana seseorang terus-menerus terpapar informasi serupa hingga kehilangan perspektif yang seimbang. Situasi ini dinilai sangat rawan dimanfaatkan kelompok ekstrem untuk menanamkan narasi intoleransi.
Karena itu, FKPT Jambi mendorong penguatan literasi digital dan moderasi beragama agar tidak lagi dipandang sebagai program tambahan.
“Ini harus menjadi bagian penting dalam pendidikan, baik di sekolah maupun kampus. Kita harus merebut ruang digital dengan konten positif dan narasi yang menyejukkan,” tegas Farisi.
Melalui pendekatan berbasis data ini, FKPT Jambi optimistis langkah mitigasi terhadap radikalisme akan lebih tepat sasaran. Targetnya jelas: menjaga Jambi tetap aman, inklusif, dan harmonis di tengah tantangan era digital yang terus berkembang.
































































