JAKARTA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi desa. Pemerintah mulai mengintegrasikan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dengan jaringan dapur MBG agar hasil pertanian dan perikanan masyarakat terserap secara berkelanjutan.
Melalui skema tersebut, koperasi desa berperan sebagai penghubung antara petani, peternak, dan pembudidaya dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG. Dengan demikian, masyarakat tidak lagi hanya memproduksi pangan, tetapi juga memperoleh kepastian pasar atas hasil usahanya.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan pemerintah tengah membangun ekosistem ekonomi desa yang terintegrasi, mulai dari proses produksi, distribusi, hingga konsumsi.
Menurutnya, model tersebut akan menciptakan hubungan yang saling menguntungkan. Masyarakat memperoleh kepastian pembeli, koperasi berkembang sebagai motor ekonomi desa, sementara Program MBG mendapatkan pasokan bahan baku yang berkualitas dan berkesinambungan.
“Inilah yang kita bangun, sebuah closed-loop economy. Warga memiliki kepastian pasar, koperasi menjadi penggerak ekonomi desa, dan anak-anak memperoleh sumber protein berkualitas melalui Program MBG,” ujar Zulkifli.
Selama ini, salah satu persoalan utama yang dihadapi petani dan pembudidaya adalah ketidakpastian pasar. Harga hasil panen kerap berfluktuasi, sementara akses terhadap pembeli tetap masih terbatas. Melalui integrasi dengan MBG, pemerintah berupaya memutus persoalan tersebut dengan menghadirkan permintaan yang stabil dari dapur-dapur MBG di berbagai daerah.
Skema itu mulai diterapkan di sejumlah wilayah. Salah satunya di KDMP Kamolan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, yang kini memasok lele segar ke empat dapur MBG.
Setiap SPPG rata-rata membutuhkan sekitar 250 kilogram lele dalam setiap pengiriman dengan harga pembelian Rp25.000 per kilogram. Permintaan yang berlangsung secara rutin tersebut membuat kelompok pembudidaya dapat menyusun pola produksi secara lebih terencana.
Budidaya lele sistem bioflok di Kamolan telah berjalan sejak Februari 2026. Pada panen perdana, produksi mencapai sekitar 1,04 ton, sedangkan panen parsial pada siklus berikutnya telah menghasilkan sekitar 605 kilogram.
Untuk menjaga kesinambungan pasokan, sebanyak 22 dari 24 kolam telah diisi sekitar 92.000 benih lele yang ditebar secara bertahap. Pola tersebut memungkinkan panen dilakukan secara bergilir sehingga pasokan bagi dapur MBG tetap terjaga sepanjang tahun.
Pemerintah menilai integrasi KDMP dengan MBG bukan sekadar menciptakan pasar baru bagi hasil pertanian dan perikanan, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan nasional melalui rantai pasok yang lebih pendek dan efisien.
Selain meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa, model tersebut diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada rantai distribusi yang panjang sehingga harga bahan pangan menjadi lebih stabil.
Upaya tersebut juga sejalan dengan target pemerintah meningkatkan produksi ikan budidaya nasional hingga 7,15 juta ton pada 2026 melalui pengembangan Program Budidaya Tematik Bioflok.
Program tersebut tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan produksi perikanan nasional, tetapi juga menciptakan lapangan kerja, memperkuat ekonomi desa, dan memastikan kebutuhan protein bagi jutaan penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis dapat terpenuhi dari hasil produksi masyarakat sendiri.
Dengan semakin banyaknya koperasi desa yang terhubung dengan jaringan SPPG, pemerintah berharap terbentuk sebuah ekosistem pangan nasional yang saling menguatkan, di mana keberhasilan Program MBG tidak hanya diukur dari meningkatnya kualitas gizi anak-anak Indonesia, tetapi juga dari tumbuhnya ekonomi desa sebagai fondasi ketahanan pangan nasional.


























































