JAKARTA — Ada momen yang tak direncanakan dalam forum tokoh agama dunia di Assisi, Italia. Menteri Agama Nasaruddin Umar awalnya hanya diberi waktu tujuh menit untuk berbicara.
Tapi begitu ia mulai menjelaskan Pancasila dan pengalaman Indonesia merawat keberagaman, peserta forum justru meminta lebih. Tujuh menit itu molor menjadi sekitar 30 menit.
“Mereka tertarik, minta dijelaskan tentang Pancasila. Pancasila itu bisa menjadi bukan hanya nilai-nilai Indonesia, tetapi juga bisa menjadi nilai-nilai universal,” cerita Nasaruddin setibanya di Tanah Air, Kamis (29/10/2026).
Momen itu menjadi gambaran kecil dari hasil besar kunjungan kerja Menag ke Italia dan Vatikan: Indonesia kini tidak lagi diposisikan sebagai negara yang sekadar belajar, tetapi sebagai model yang ingin dipelajari dunia.
Sejumlah negara menyatakan ketertarikan untuk menjalin kerja sama dengan Kementerian Agama dan Masjid Istiqlal. Di antaranya Inggris, Australia, dan Pakistan.
“Mereka ingin kerja sama dengan Kementerian Agama dan Istiqlal, terutama di Inggris, ya, kemarin Inggris, Australia, dan Pakistan,” ujar Nasaruddin.
Menurutnya, ketertarikan itu muncul karena pengalaman Indonesia mengelola masyarakat yang majemuk dinilai punya nilai pembelajaran yang nyata. Moderasi beragama yang selama ini dibangun di Indonesia, dianggap bisa menjadi rujukan untuk membangun kehidupan yang damai di tengah perbedaan.
“Pokoknya Indonesia itu sekarang jadi model, ya, terutama moderasi beragama kita,” ungkapnya.
Tidak hanya negara, kalangan akademik pun ikut melirik. Dua perguruan tinggi di Italia dan Vatikan menyampaikan keinginan untuk berkolaborasi, salah satunya PISAI — Pontificio Istituto di Studi Arabi e d’Islamistica, Institut Kepausan untuk Studi Arab dan Islam di bawah naungan Takhta Suci Vatikan.
Bagi Nasaruddin, kerja sama ini bisa saling menguntungkan. Indonesia punya pengalaman panjang menjaga persatuan di tengah keragaman, sementara Vatikan menyimpan kekayaan literatur dan tradisi keilmuan yang bisa memperluas perspektif kajian keagamaan.
“Mereka berkepentingan untuk belajar ke Indonesia. Kita pun juga, saya kira, perlu belajar di Vatikan,” tuturnya.
Ketertarikan Menag pada pertukaran pengetahuan itu semakin kuat setelah ia mengunjungi Perpustakaan Vatikan. Di sana, ia menemukan banyak koleksi literatur Islam, termasuk kitab-kitab yang justru relatif jarang ditemui di Indonesia maupun di negara-negara Timur Tengah.
Pengalaman itu menegaskan satu hal: dialog antaragama tidak hanya bisa dibangun lewat pertemuan tokoh dan pidato diplomasi, tetapi juga lewat pertukaran khazanah keilmuan, penelitian, dan pendidikan.
Selain kerja sama kelembagaan, kunjungan ke Assisi juga membawa kabar baik untuk gagasan yang dibawa Indonesia: ekoteologi dan diplomasi keagamaan.
Penyelenggara forum memberikan respons positif terhadap pidato Indonesia. Bahkan, dua gagasan tersebut direncanakan menjadi salah satu tema besar dalam agenda pertemuan mendatang.
“Jadi, statement kita tentang ekoteologi dan tentang religious diplomacy itu nanti juga akan dijadikan tema besar yang akan datang,” jelas Nasaruddin.
Gagasan kerja sama antarumat beragama yang selama ini dikembangkan lewat Masjid Istiqlal juga mendapat perhatian. April tahun depan disebut sebagai salah satu momentum untuk melanjutkan pembahasan dan menindaklanjuti peluang kolaborasi tersebut.
Bertemu Menlu Vatikan: Membela yang Tertindas Tanpa Melihat Agamanya
Dalam rangkaian kunjungan itu, Nasaruddin juga diterima Menteri Luar Negeri Vatikan. Pertemuan tersebut membahas hubungan Indonesia-Vatikan, termasuk peluang memperkuat kerja sama dan menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan universal.
Vatikan memandang Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim besar yang berhasil menjaga kehidupan beragama yang moderat. Kedua pihak juga memiliki kesamaan perhatian: melindungi kelompok masyarakat yang mengalami penindasan, tanpa membedakan agama dan latar belakang.
“Bahwa siapa pun yang tertindas itu harus dibela, dari kelompok agama mana pun,” tegas Nasaruddin.
Prinsip kemanusiaan itu menjadi titik temu penting yang memperkuat hubungan Indonesia dan Vatikan. Perbedaan keyakinan, menurutnya, tidak seharusnya menjadi penghalang untuk bekerja sama membela martabat manusia, memperjuangkan keadilan, dan menciptakan perdamaian.
Menag berharap semua respons positif ini tidak berhenti sebagai tepuk tangan di forum internasional. Peluang tersebut harus diterjemahkan menjadi program konkret — mulai dari dialog antaragama, pendidikan, pertukaran keilmuan, hingga penguatan diplomasi keagamaan.
“Dan itulah, saya kira, connecting yang sangat bagus antara Indonesia dan Vatikan,” pungkasnya.
Melalui diplomasi keagamaan, Indonesia kini mencoba memperluas kontribusinya dalam percakapan global tentang toleransi, perdamaian, dan kemanusiaan. Pancasila, moderasi beragama, dan ekoteologi menjadi modal yang ditawarkan untuk membangun kerja sama lintas negara dan lintas tradisi.
































































