Lombok Timur – Aktivitas bermain gim daring dan media sosial kini menjadi perhatian serius dalam upaya pencegahan radikalisme di kalangan anak dan remaja.
Pemerintah Kabupaten Lombok Timur mewaspadai penyebaran paham ekstrem lewat ruang digital setelah sekitar 15 remaja di wilayahnya terindikasi terpapar.
Kepala Bakesbangpoldagri Lombok Timur, H. Mustafa, mengungkapkan temuan tersebut berdasarkan informasi dari Densus 88 Antiteror Polri. Para remaja tersebut masih berstatus pelajar SMP hingga SMA.
Menurut Mustafa, pola penyebarannya memanfaatkan interaksi di dalam gim daring seperti Roblox dan Mobile Legends untuk membangun pertemanan di dunia maya. Dari situ, remaja diarahkan pada konten yang mengandung kekerasan dan bertentangan dengan nilai perdamaian.
Awalnya ditemukan enam remaja. Setelah ditelusuri lebih lanjut, jumlahnya bertambah menjadi sekitar 15 orang.
“Para remaja yang diduga terindikasi berasal dari beberapa wilayah di Lombok Timur, di antaranya Aikmel, Terara, Sakra, Sakra Timur dan Sakra Barat,” ujar Mustafa, Senin (2/11/2026) dikutip dari rri.co.id.
Para remaja tersebut telah mendapatkan pembinaan melalui instansi terkait di tingkat provinsi sebagai upaya memberikan pemahaman tentang konten yang mereka temui di ruang digital.
Mustafa menyebut, sebagian dari mereka bahkan tidak menyadari bahwa aktivitas yang dianggap sekadar permainan ternyata mengarah pada paparan paham radikal.
“Anak-anak ini terkadang tidak tahu bahwa permainan itu ternyata mengarah ke sana. Setelah diberikan penjelasan dan pembinaan, baru mereka memahami,” katanya.
Meski demikian, ia menegaskan pencegahan bukan berarti melarang anak bermain gim. Yang lebih penting adalah meningkatkan literasi dan kewaspadaan agar mereka mampu mengenali konten berbahaya.
Untuk mengantisipasi, Bakesbangpoldagri Lotim terus berkoordinasi dengan Densus 88 dan melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah, terutama SMP dan SMA yang dinilai perlu penguatan wawasan kebangsaan dan literasi digital.
“Kami terus melakukan pemantauan dan sosialisasi, terutama karena sasarannya anak-anak SMP dan SMA,” ujarnya.
Mustafa menyebut sosialisasi telah dilakukan di 40 titik sekolah tingkat SLTA sederajat dengan materi bahaya radikalisme, pentingnya persatuan, dan bijak bermedia sosial.
Selain sekolah, peran orang tua dinilai krusial. Pengawasan perlu disertai komunikasi terbuka agar anak nyaman menceritakan pengalaman, pertemanan, dan konten yang ditemui saat bermain gim.
“Betul-betul hati-hati dalam bermedia sosial. Anak-anak kita minta waspada karena sekarang paham-paham seperti ini bisa masuk lewat media sosial,” ucapnya.
Pemkab Lombok Timur berharap penguatan edukasi di sekolah, pendampingan keluarga, dan koordinasi lintas instansi dapat menjadi langkah bersama melindungi generasi muda dari paparan paham ekstrem sekaligus menciptakan ruang digital yang lebih aman.

































































