DENPASAR – SMP Negeri 9 Denpasar mengambil langkah preventif untuk menangkal paham intoleransi dan kekerasan di kalangan pelajar. Sekolah tersebut bekerja sama dengan Tim Pencegahan Satuan Tugas Wilayah (Satgaswil) Bali Densus 88 Antiteror Polri untuk memberikan penyuluhan kepada ratusan siswa.
Penyuluhan difokuskan pada isu Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme (IRET) serta pentingnya merawat toleransi. Agar lebih efektif, kegiatan digelar secara bergilir per angkatan.
Wakil Kepala SMPN 9 Denpasar bidang Humas, Ni Made Suryathi, menjelaskan rangkaian kegiatan ini dimulai dari kelas IX pada pekan lalu, kemudian berlanjut untuk kelas VIII pada Selasa (3/11/2026). Giliran kelas VII akan dilaksanakan pada Selasa minggu depan.
“Kegiatan ini inisiatif dari Mabes Polri yang datang langsung ke sekolah untuk mengajukan izin sosialisasi. Kami bagi per tingkat supaya semua siswa kebagian secara merata,” kata Suryathi saat dikonfirmasi via telepon, Selasa malam.
Ia merinci, pembagian jadwal tersebut bertujuan agar penyampaian materi bisa lebih fokus dan seluruh peserta didik dari kelas VII sampai IX mendapatkan pemahaman yang sama.
Materi yang ditekankan tidak hanya soal ancaman terorisme, tetapi juga bentuk-bentuk intoleransi, ekstremisme, dan fanatisme yang berujung pada tindakan kekerasan. Siswa diajak mengenali ciri-ciri paham berbahaya, dampaknya bagi masa depan generasi muda, hingga cara menyikapinya.
Selain itu, tim Densus 88 juga menekankan pentingnya nilai-nilai kebangsaan, seperti sikap toleran, saling menghargai perbedaan, dan menjaga persatuan di tengah keberagaman. Edukasi literasi digital turut diberikan, terutama terkait penggunaan media sosial yang bijak, kemampuan menyaring hoaks, serta kewaspadaan terhadap konten provokatif yang mengandung ujaran kebencian.
Suryathi menegaskan, kegiatan ini tidak hanya menyasar siswa. Seluruh tenaga pendidik di lingkungan SMPN 9 Denpasar juga ikut dilibatkan.
“Semua siswa dan guru terlibat. Ini memang bentuk kolaborasi kami dengan kepolisian,” ujarnya.
Pihak sekolah berharap melalui edukasi sejak dini ini, kesadaran siswa terhadap bahaya paham intoleran dan kekerasan semakin kuat, sehingga tercipta iklim sekolah yang aman, damai, dan inklusif.

































































