JAKARTA – Pencegahan ekstremisme yang mengarah pada terorisme tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan keamanan. Keterlibatan masyarakat hingga level desa dinilai krusial, dengan memperkuat ketahanan keluarga, ekonomi, kepedulian sosial, hingga literasi digital untuk melindungi generasi muda.
Untuk itu, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) terus memperkuat peran penggerak Desa Siapsiaga sebagai mitra di akar rumput dalam membangun daya tangkal lingkungan.
Penguatan tersebut dilakukan melalui Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Penggerak Desa Siapsiaga Tahun Anggaran 2026 yang digelar di Jakarta, Selasa (3/11/2026). Forum ini diikuti 108 penggerak yang berasal dari enam provinsi, yakni Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Lampung.
Plt. Deputi Bidang Kesiapsiagaan Nasional dan Kontra Radikalisasi BNPT, Irjen Pol. Wawan Ridwan, mengatakan posisi penggerak desa sangat strategis karena bersentuhan langsung dengan warga dan paling memahami dinamika sosial di wilayahnya.
“Penggerak Desa Siapsiaga menjadi garda terdepan dalam upaya pencegahan penyebaran paham radikal atau paham kekerasan kepada generasi muda. Hal ini dikarenakan kelompok ekstremis semakin adaptif dalam memanfaatkan perkembangan teknologi. Mereka menggunakan berbagai bentuk konten digital untuk membangun simpati dan memengaruhi pola pikir masyarakat,” jelasnya.
Wawan menilai, adaptasi kelompok ekstrem di ruang digital membuat literasi menjadi kunci. Masyarakat harus mampu mengenali konten yang mengandung provokasi kebencian dan ajakan kekerasan, serta tidak mudah terpengaruh narasi yang beredar di berbagai platform.
Ia menjelaskan, Desa Siapsiaga merupakan wujud implementasi kesiapsiagaan nasional yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018. Program ini bertujuan membangun kemampuan warga dalam mendeteksi potensi ancaman sejak dini, memperkuat daya tangkal, dan menjaga lingkungan tetap harmonis.
“Sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018, kami melakukan upaya pencegahan melalui tiga kegiatan, yaitu kesiapsiagaan nasional, kontra radikalisasi, dan deradikalisasi. Inilah salah satu implementasi program kesiapsiagaan nasional, yaitu menjaga komunitas agar memiliki daya tangkal secara dini untuk mencegah penyebaran paham radikal terorisme yang terjadi di masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Rektor Universitas Kristen Indonesia (UKI) Prof. Angel Damayanti, yang hadir sebagai narasumber, menekankan pencegahan harus menyentuh aspek kehidupan sehari-hari warga. Sebab, penyebaran paham ekstrem kini semakin kompleks dan bisa masuk hingga ke desa-desa.
Angel memaparkan tiga pilar penguatan ketahanan masyarakat.
Pertama, penguatan nilai kebangsaan lewat forum kebudayaan dan aktualisasi Pancasila untuk mempererat persatuan dan membangun kepercayaan terhadap pemerintah.
Kedua, ketahanan digital bagi anak dan remaja. Keluarga, guru, dan komunitas perlu aktif mendampingi agar generasi muda cakap menyaring informasi dan menggunakan media sosial secara bertanggung jawab.
Ketiga, pemberdayaan ekonomi lokal melalui pengembangan ekonomi kreatif. Ekonomi desa yang kuat diharapkan meningkatkan kesejahteraan, memperluas partisipasi warga, dan memperkuat solidaritas.
Menurutnya, lingkungan dengan ikatan sosial yang kuat, akses ekonomi produktif, dan ruang komunikasi terbuka akan lebih tahan terhadap infiltrasi paham kekerasan.
Manfaat Rakornas ini juga dirasakan langsung oleh peserta. Salah satunya Nurwulan, penggerak Desa Siapsiaga dari Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang, Banten. Ia mengaku mendapat wawasan baru untuk mengembangkan program di wilayahnya.
“Setelah menghadiri acara ini, wawasan kami terkait pengembangan program Desa Siapsiaga di wilayah Menes bertambah. Kami dapat menyatukan persepsi dalam pergerakan Desa Siapsiaga, salah satunya untuk meningkatkan program ketahanan ekonomi masyarakat di wilayah Menes,” katanya.
Rakornas tahun ini mengusung tema “Dari Desa, Siap Kolaborasi Jaga Indonesia”. Forum ini menjadi wadah konsolidasi kebijakan, berbagi pengalaman antar daerah, serta memetakan tantangan yang dihadapi penggerak di lapangan.
Melalui penguatan 108 penggerak tersebut, BNPT mendorong terbentuknya jejaring masyarakat yang solid sebagai mitra pemerintah dalam menjaga ketahanan sosial hingga tingkat desa. Desa Siapsiaga diharapkan tidak sekadar menjadi program pencegahan terorisme, tetapi juga ruang untuk memperkuat solidaritas, kepedulian sosial, dan pemberdayaan generasi muda.
































































