Labuan Bajo – Ancaman intoleransi, radikalisme, hingga terorisme dinilai dapat melemahkan fondasi bangsa bila tidak dicegah sejak dini. Karena itu, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersama Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya pemuda, untuk memperkuat persatuan melalui forum Dialog Kebangsaan yang digelar di Labuan Bajo, Rabu (27/8/2025).
Deputi Bidang Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi BNPT, Mayjen TNI Sudaryanto, S.E., M.Han., menegaskan pentingnya komunikasi terbuka sebagai sarana mencegah kesalahpahaman di tengah masyarakat.
“Kalau di Surabaya dulu saya menyebutnya cangkrukan. Setiap minggu kami berdialog dengan Forkopimda dan masyarakat agar komunikasi tidak lemah. Forum seperti ini bermanfaat untuk menyelesaikan persoalan bersama,” ujarnya.
Ia mengingatkan, meski situasi Manggarai Barat relatif kondusif, upaya pencegahan harus tetap dilakukan agar bibit intoleransi tidak berkembang menjadi radikalisme, ekstremisme, hingga terorisme. “Sebelum membesar, harus kita hilangkan sejak awal,” tegasnya.
Sudaryanto juga menyinggung sejarah lahirnya bangsa Indonesia yang dibangun atas dasar persatuan dalam perbedaan melalui organisasi kepemudaan Jong Java, Jong Sumatera, Jong Celebes, hingga Jong Ambon. “Namun kini, perbedaan agama atau suku sering dijadikan masalah. Padahal persatuan adalah kunci agar bangsa ini kuat,” katanya.
Ia menambahkan, generasi muda kini menjadi target utama penyusupan paham radikal. “Indonesia ditargetkan masuk lima besar ekonomi dunia pada 2045. Ada pihak yang tidak senang dengan kemajuan itu, dan pemuda bisa jadi sasaran. Karena itu mereka harus kita jaga,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Bupati Manggarai Barat, dr. Yulianus Weng, M.Kes., mengajak generasi muda menjaga kondusivitas daerah demi kelangsungan pariwisata. “Labuan Bajo yang kini destinasi wisata dunia membutuhkan suasana aman dan nyaman. Rasa aman bukan hanya tugas aparat, tetapi juga tanggung jawab kita semua,” ujarnya.
Yulianus menegaskan, toleransi di Manggarai Barat telah menjadi tradisi yang melekat. Perayaan Natal, Paskah, hingga Idulfitri selalu dijaga bersama lintas agama, mulai dari Banser, remaja masjid, hingga pemuda Katolik dan Kristen. “Inilah wajah kerukunan kita. Dalam keluarga saya sendiri ada Katolik dan Islam, setiap Idulfitri kami saling berkunjung. Itu indahnya keberagaman,” ungkapnya.
Ia mengingatkan agar kemajuan pariwisata tidak mengikis budaya lokal. “Nilai gotong royong, toleransi, dan kearifan lokal harus terus kita jaga. Pemuda adalah garda terdepan untuk menjaga budaya dan persatuan, sekaligus menangkal radikalisme,” tandasnya.
Dialog Kebangsaan ini menghadirkan narasumber Direktur Pencegahan BNPT Prof. Dr. Irfan Idris, Ketua PCNU Manggarai Barat H. Ishak Muhammad Jabi, Wakil Ketua FKUB Pdt. Rudi Siswanto, dan rohaniawan Katolik Theodorus Noka. Kegiatan diikuti sekitar 120 peserta dari berbagai organisasi pemuda dan masyarakat, seperti GP Ansor, Pemuda Katolik, KNPI, Pemuda Muhammadiyah, KAHMI, PMKRI, GMNI, hingga komunitas pramuwisata.

































































