Jakarta — Memasuki tahun 2026, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai perlu melangkah lebih jauh dari sekadar pemenuhan kebutuhan makan siang. Program unggulan pemerintah ini didorong menjadi instrumen strategis untuk membangun kedaulatan pangan nasional sekaligus menanamkan kecintaan generasi muda terhadap pangan lokal.
Pandangan tersebut disampaikan Guru Besar sekaligus Kepala Pusat Studi Bioteknologi IPB University, Dwi Andreas Santosai. Menurutnya, MBG memiliki potensi besar untuk menjadi jembatan antara pemenuhan gizi, diversifikasi pangan, dan penguatan ekonomi lokal.
“MBG seharusnya tidak berhenti pada aspek memberi makan. Program ini bisa dimanfaatkan untuk memperkenalkan kembali komoditas pangan lokal khas daerah kepada anak-anak sejak dini,” ujar Dwi, dikutip Sabtu (27/12/2025) dikutip dari bisnis.com.
Ia menilai, dalam konteks jangka panjang, MBG dapat menjadi salah satu pilar penting swasembada pangan Indonesia, terutama untuk menekan ketergantungan pada komoditas impor yang selama ini terus meningkat.
Salah satu persoalan mendasar yang disoroti Dwi adalah lemahnya diversifikasi pangan nasional. Ketergantungan pada satu-dua sumber karbohidrat dan protein dinilai telah berada pada fase mengkhawatirkan.
Sebagai contoh, porsi gandum dalam pola konsumsi pangan nasional kini telah mencapai sekitar 28%. Laju pertumbuhan konsumsinya bahkan melampaui pertumbuhan penduduk. Pada 2024, impor gandum dan meslin tercatat menembus 11,7 juta ton.
“Kalau konsumsi mi instan terus tumbuh di kisaran 3—5% per tahun tanpa diimbangi diversifikasi, bukan tidak mungkin menjelang 100 tahun kemerdekaan, gandum menyumbang hingga 50% pangan pokok kita,” katanya.
Di sisi lain, dominasi beras sebagai sumber karbohidrat utama juga menjadi tantangan tersendiri. Hampir seluruh wilayah Indonesia kini bergantung pada beras, padahal sebelumnya masyarakat memiliki alternatif seperti sagu, jagung, dan aneka umbi-umbian.
Meski swasembada beras dapat dicapai pada tahun ini, Dwi menilai status tersebut sulit dipertahankan dalam jangka panjang. Karena itu, pengenalan pangan alternatif kepada anak-anak melalui MBG dinilai semakin mendesak.
“Di Jepang, program makan siang sekolah justru dijadikan sarana memperkenalkan makanan lokal dan membangun kebiasaan mencintai pangan daerah. Anak-anak dilatih untuk mengenal dan mencoba,” ujarnya.
Tantangan lain muncul pada sektor protein. Kajian IPB University menunjukkan, apabila MBG berjalan optimal dan menjangkau 82,9 juta penerima manfaat, Indonesia berpotensi mengalami defisit sekitar 1,4 juta ton telur dan 1,1 juta ton daging ayam.
Tanpa mitigasi sejak dini, kondisi tersebut dikhawatirkan memicu lonjakan harga bahkan membuka kembali keran impor. Apalagi, sektor perunggasan saat ini sangat bergantung pada korporasi besar, termasuk dalam penyediaan pakan yang masih mengandung komponen impor tinggi.
“Pemerintah harus mulai memikirkan alternatif sumber protein. Peternakan ayam saat ini sangat korporatif dari hulu ke hilir,” kata Dwi.
Salah satu solusi yang ditawarkan adalah pengembangan ayam kampung sebagai sumber protein lokal. Menurutnya, teknologi pengembangan grandparent stock ayam kampung kini semakin maju dan layak dikembangkan secara masif.
“Ayam kampung lebih adaptif dan tidak rewel soal pakan. Konsentrat hanya sekitar 40%, sisanya bisa dari sisa makanan. Bahkan limbah MBG di satu kecamatan bisa dimanfaatkan untuk menghidupi sekitar lima ribu ekor ayam kampung,” ungkapnya.
Selain telur dan daging ayam, Dwi juga mendorong pemerintah menyiapkan peta jalan pengembangan sumber protein lain, termasuk dari sektor perikanan dan kelautan. Upaya tersebut diharapkan mampu menekan ketergantungan impor komoditas strategis seperti kedelai, daging sapi, susu, dan buah-buahan.
Ia mencontohkan keberhasilan Jepang dalam mengintegrasikan program makan siang sekolah dengan pendidikan pangan melalui konsep Shokuiku. Budaya tersebut tidak hanya mengajarkan gizi, tetapi juga mengenalkan anak-anak pada petani, peternak, dan proses produksi pangan lokal.
“Anak-anak diajak memanen sayuran sendiri. Dari situ tumbuh penghargaan terhadap makanan, karena mereka tahu dari mana asalnya,” jelasnya.
Dwi mengingatkan agar generasi muda Indonesia kelak tidak justru asing dengan makanan tradisionalnya sendiri—mulai dari pecel, karedok, hingga bahan-bahan lokal yang menyusunnya.
“MBG punya peluang besar untuk menanamkan nilai itu. Makanan lokal kita sangat kaya. Program ini bisa menjadi pintu untuk mengenalkan kembali kekayaan tersebut sekaligus menggerakkan ekonomi petani dan peternak di sekitar,” pungkasnya.

































































