Jakarta — Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengingatkan adanya pergeseran serius dalam pola rekrutmen jaringan terorisme di Indonesia. Jika sebelumnya dilakukan melalui pertemuan langsung, kini kelompok radikal menjadikan ruang digital sebagai sarana utama untuk menyasar anak dan remaja.
Kelompok Ahli BNPT Bidang Kerja Sama Internasional, Dr. Darmansjah Djumala, menyebut kelompok usia muda kini menjadi target utama radikalisasi karena masih berada dalam fase pencarian jati diri.
“Rekrutmen terorisme tidak lagi hanya lewat tatap muka. Ruang digital menjadi medium utama. Bahkan sasaran mereka sekarang adalah remaja dan anak-anak,” kata Darmansjah dalam keterangan tertulis, Rabu (31/12/2025).
Menurutnya, media sosial hingga gim daring kerap disalahgunakan untuk menyebarkan narasi kekerasan. Tidak hanya propaganda ideologis, ruang digital juga dimanfaatkan untuk menyebarluaskan konten ekstrem, termasuk tutorial pembuatan bahan peledak yang dapat diakses secara bebas.
Ancaman tersebut tercermin dari data Densus 88 Antiteror Polri sepanjang 2025. Tercatat sedikitnya 112 anak telah diperiksa karena terpapar paham radikal melalui platform digital. Mereka tersebar di 26 provinsi, menunjukkan bahwa radikalisasi daring telah menjangkau hampir seluruh wilayah Indonesia.
Situasi ini diperparah oleh kasus nyata keterlibatan seorang siswa SMA dalam aksi pengeboman di Jakarta Utara beberapa waktu lalu. Peristiwa tersebut menjadi bukti bahwa indoktrinasi ekstremisme dapat menembus lingkungan keluarga melalui gawai pribadi.
“Ruang digital saat ini sudah tidak sepenuhnya ramah bagi anak dan remaja. Konten kekerasan, termasuk cara merakit bahan peledak, bisa diakses dengan sangat mudah,” tegas Darmansjah.
BNPT menilai kondisi ini sebagai tantangan lintas negara yang membutuhkan respons bersama. Oleh karena itu, isu pencegahan kekerasan dan radikalisasi anak melalui ruang digital didorong menjadi agenda utama dalam kerja sama internasional penanggulangan terorisme.
“Setiap kerja sama, baik bilateral, regional, maupun multilateral, harus menjadikan pencegahan kekerasan oleh anak dan remaja di ruang digital sebagai prioritas,” ujarnya.
Selain kerja sama internasional, BNPT juga menekankan pentingnya penguatan literasi digital serta peran aktif orang tua dalam mengawasi aktivitas daring anak. Langkah tersebut dinilai krusial untuk memutus mata rantai rekrutmen terorisme sejak dini.

































































