Pekalongan – Pemerintah Kota Pekalongan terus memperluas jangkauan Program Makan Bergizi (MBG) sebagai langkah strategis meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, khususnya kelompok rentan. Hingga awal Januari 2026, sebanyak 2.400 ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (B3) di Kota Pekalongan telah menerima manfaat program tersebut.
Koordinator Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kota Pekalongan, M. Noor Faishal Zakiy, mengatakan bahwa dari total 64.000 sasaran penerima manfaat MBG di wilayahnya, kelompok B3 menjadi prioritas yang terus dioptimalkan.
“Dari total sasaran penerima MBG di Kota Pekalongan, sekitar 2.400 merupakan kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Ke depan, cakupan ini akan terus kami maksimalkan agar manfaatnya semakin luas,” ujar Faishal saat dikonfirmasi, Rabu (7/1/2026).
Ia menjelaskan, penyaluran MBG bagi kelompok B3 telah berjalan sejak September 2025. Dalam pelaksanaannya, SPPG menggandeng berbagai pihak di tingkat kecamatan hingga kelurahan untuk memastikan bantuan tepat sasaran dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Terkait mekanisme distribusi, Faishal menyebut pola penyaluran pada dasarnya sama dengan kelompok penerima lainnya, yakni melalui koordinasi bersama kader posyandu di masing-masing wilayah. Para kader berperan menentukan titik pengambilan MBG yang mudah dijangkau penerima manfaat.
“Untuk ibu hamil, ibu menyusui, atau balita yang berhalangan hadir dan tidak dapat mengambil langsung, bantuan MBG akan kami antar secara door to door ke rumah masing-masing,” jelasnya.
Dalam penentuan sasaran kelompok B3, SPPG Kota Pekalongan tidak semata berpatok pada ketentuan umum, melainkan mengedepankan kondisi riil di lapangan. Prioritas utama diberikan kepada bumil, busui, dan balita yang mengalami stunting atau berisiko stunting.
“Kelompok B3 kami prioritaskan berdasarkan kebutuhan kesehatan di lapangan, terutama yang mengalami atau berisiko stunting. Namun, kami juga mempertimbangkan keberadaan Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) agar intervensi gizi tidak tumpang tindih,” ujarnya.
Menurut Faishal, sinergi antara Program MBG dan PMT menjadi kunci agar upaya peningkatan status gizi berjalan efektif dan saling melengkapi dalam menekan angka stunting.
Ia menambahkan, proses pendataan awal penerima manfaat dilakukan secara bertahap dan terkoordinasi melalui komunikasi intensif dengan koordinator kecamatan. Pendataan melibatkan kecamatan, puskesmas, serta posyandu guna memastikan keakuratan data.
“Pendataan kami lakukan bersama korcam, kecamatan, puskesmas, dan posyandu. Dari situ kami memetakan calon penerima manfaat agar data yang digunakan benar-benar valid dan sesuai kondisi lapangan,” terangnya.
Dengan koordinasi yang terstruktur dan kolaboratif, Faishal berharap penyaluran MBG bagi kelompok ibu dan anak di Kota Pekalongan dapat berjalan optimal, tepat sasaran, serta memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesehatan masyarakat.
“Kami berkomitmen memperkuat program pemenuhan gizi sebagai investasi jangka panjang untuk mencetak generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas,” pungkasnya.

































































