Kendari – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Sulawesi Tenggara mencatat masuknya investasi sektor industri serta implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi faktor penting yang mendorong pertumbuhan ekonomi daerah sepanjang 2025.
Kepala KPw BI Sultra Edwin Permadi mengatakan, secara keseluruhan perekonomian Sulawesi Tenggara tumbuh solid sebesar 5,79 persen (year on year/yoy). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan capaian tahun 2024 yang sebesar 5,40 persen (yoy) dan melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11 persen (yoy).
“Pertumbuhan ekonomi Sultra sepanjang 2025 tetap kuat dan berada di atas nasional,” ujar Edwin saat ditemui di Kendari, Selasa.
Dari sisi permintaan, Edwin menjelaskan penguatan ekonomi ditopang oleh Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi, terutama melalui pembangunan kawasan industri serta fasilitas pendidikan. Selain itu, konsumsi rumah tangga juga tetap terjaga seiring daya beli masyarakat yang relatif stabil.
“Pertumbuhan pada sisi permintaan didukung oleh investasi kawasan industri dan fasilitas pendidikan, serta konsumsi rumah tangga yang masih kuat,” katanya.
Sementara dari sisi penawaran, kinerja tertinggi dicatat oleh lapangan usaha jasa keuangan yang tumbuh sebesar 17,27 persen (yoy). Lonjakan ini dipicu oleh ekspansi penyaluran kredit dan meningkatnya transaksi digital di tengah masyarakat.
Selain itu, sektor akomodasi serta penyediaan makan dan minum turut memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Hal tersebut sejalan dengan implementasi program MBG dan penyelenggaraan berbagai kegiatan berskala nasional di Sulawesi Tenggara.
“Pertumbuhan juga diperkuat oleh lapangan usaha informasi dan komunikasi, seiring meningkatnya aktivitas digital masyarakat,” jelas Edwin.
Meski demikian, laju pertumbuhan ekonomi Sultra sedikit tertahan oleh kinerja yang lebih rendah pada sektor administrasi pemerintahan, serta kontraksi pada ekspor besi dan baja maupun impor bahan bakar minyak (BBM).
Edwin menambahkan, kinerja ekonomi yang solid juga didukung oleh akselerasi transaksi nontunai melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) yang kini menjadi game changer dalam sistem pembayaran ritel.
Hingga triwulan IV 2025, volume transaksi QRIS di Sulawesi Tenggara melonjak 184,61 persen (yoy) dengan total transaksi mencapai 4,36 juta.
Untuk menjaga stabilitas harga dan mengantisipasi tekanan inflasi di awal 2026, BI Sultra bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memperkuat sinergi pengendalian harga pangan menjelang Ramadhan dan Idul Fitri.
“Salah satu langkah yang dilakukan adalah dukungan fasilitasi Gerakan Pangan Murah (GPM) bekerja sama dengan delapan TPID kabupaten dan kota di Sultra,” pungkasnya. (Ant)

































































