Yogyakarta – Agenda tahunan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta kembali hadir di kawasan Kampoeng Ketandan, Kota Yogyakarta, pada 25 Februari hingga 3 Maret 2026. Tahun ini menjadi penyelenggaraan ke-21 dan terasa istimewa karena bertepatan dengan bulan Ramadan 1447 Hijriah.
Ketua Panitia PBTY XXI 2026, Jimmy Sutanto, mengatakan tema yang diusung tahun ini adalah “Warisan Budaya, Kekuatan Bangsa”. Tema tersebut dipilih untuk menegaskan bahwa tradisi dan nilai budaya lintas generasi bukan sekadar peninggalan sejarah, melainkan fondasi dalam memperkuat persaudaraan lintas etnis dan agama.
“Warisan budaya adalah kekuatan bangsa. Nilai-nilai yang diwariskan itu membentuk jati diri, memperkuat persatuan, dan mendorong kemajuan bersama,” ujar Jimmy di Yogyakarta, Jumat (27/2/2026).
Berlangsungnya PBTY di bulan puasa menjadi tantangan tersendiri bagi panitia. Sejumlah penyesuaian dilakukan agar kegiatan tetap berjalan meriah tanpa mengganggu umat Muslim yang menjalankan ibadah.
Seluruh pertunjukan seni dijadwalkan mulai pukul 20.00 WIB, setelah waktu berbuka puasa dan salat tarawih. Kebijakan ini diambil sebagai bentuk penghormatan terhadap masyarakat yang menjalankan ibadah Ramadan.
Selain itu, pengaturan zona kuliner juga menjadi perhatian. Panitia memisahkan stan makanan halal dan nonhalal untuk menjaga kenyamanan pengunjung. Area makanan halal dan umum ditempatkan di sisi barat hingga utara kawasan, sedangkan stan nonhalal berada di sisi selatan.
“Pengaturan ini dilakukan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dan semua pengunjung merasa nyaman,” kata Jimmy.
Sebanyak 172 gerai usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) ambil bagian dalam PBTY XXI dari lebih 300 pendaftar. Tingginya minat pedagang menunjukkan bahwa PBTY telah menjadi agenda yang dinantikan karena dampak ekonominya cukup signifikan.
Pada penyelenggaraan tahun sebelumnya, jumlah pengunjung tercatat mencapai sekitar 8.000 hingga 10.000 orang. Panitia berharap angka tersebut tetap terjaga, bahkan meningkat, meski bertepatan dengan Ramadan.
Jimmy menilai momentum ini justru bisa menghadirkan suasana berbeda. Masyarakat dapat datang sebelum waktu magrib untuk mencari takjil sekaligus menikmati suasana Kampoeng Ketandan saat ngabuburit.
Selain bazar kuliner dan produk UMKM, PBTY XXI menghadirkan beragam pertunjukan seni dan budaya. Di antaranya Wayang Potehi, tarian tradisional, pertunjukan barongsai, hingga panggung seni lintas budaya yang mempertemukan beragam ekspresi kesenian.
Semangat kebersamaan juga dirasakan para pedagang. Rusmadi (45), penjual perlengkapan barongsai, mengaku rutin mengikuti PBTY setiap tahun. Menurut dia, setelah berjualan di perayaan Imlek di Solo, Yogyakarta selalu menjadi tujuan berikutnya karena PBTY sudah memiliki nama dan pengunjung setia.
Antusiasme juga datang dari pengunjung. Amelia (22), yang baru pertama kali menghadiri PBTY, mengaku mengetahui informasi acara tersebut dari temannya. Ia tertarik dengan ragam street food yang tersedia, termasuk jajanan populer dan makanan khas Imlek.
“Saya juga sedang mencari takjil, jadi bisa sekalian mencoba makanan lain. Pilihannya banyak sekali,” ujarnya.
Keinginannya menyaksikan pertunjukan barongsai secara langsung menjadi alasan utama ia datang ke acara tersebut.
Melalui penyelenggaraan tahun ini, panitia berharap PBTY semakin memperkuat citra Yogyakarta sebagai kota toleransi, tempat perbedaan agama dan budaya tidak menjadi sekat, melainkan ruang perjumpaan yang saling memperkaya.

































































