Pekalongan – Sebuah cerita sederhana dari Pekalongan justru membuka sisi lain dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang selama ini ramai diperbincangkan.
Seorang pengguna Threads dengan akun @sinsianaliaw membagikan pengalamannya saat berbincang dengan asisten rumah tangga (ART) di rumahnya. Rasa penasaran tentang manfaat MBG membawanya pada jawaban yang tak ia duga—jujur, sederhana, namun sangat membekas.
ART tersebut mengaku program MBG sangat membantu anaknya yang bersekolah. Dalam keseharian, sang anak kerap berangkat tanpa bekal karena keterbatasan ekonomi keluarga.
“Kadang berangkat sekolah tidak bawa makanan. Uang jajan juga hanya Rp5 ribu sampai Rp10 ribu, itu pun cuma cukup untuk makan seadanya,” ungkapnya.
Sejak adanya MBG, kondisi itu berubah. Meski menu yang diterima tergolong sederhana, kehadiran makanan bergizi setiap hari memberi kepastian yang sebelumnya tidak dimiliki.
“Sekarang anak pasti makan tiap hari. Ada susu, buah, walaupun simpel tapi jauh lebih baik daripada tidak makan,” lanjutnya.
Tak hanya soal perut yang terisi, dampak lain juga mulai terasa. Uang jajan yang sebelumnya habis untuk makan kini bisa digunakan untuk kebutuhan lain, bahkan sesekali ditabung.
Cerita ini pun memantik respons luas dari warganet. Banyak yang mengapresiasi manfaat nyata program tersebut di lapangan, meski tetap menyoroti pentingnya pengawasan agar kualitas distribusi makanan tetap terjaga.
Sejumlah komentar menilai bahwa konsep MBG sudah tepat, namun implementasinya perlu terus diperbaiki agar sesuai dengan tujuan awal, yakni meningkatkan gizi anak secara optimal.
Sementara itu, Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, sebelumnya menyebut bahwa sekitar 60 persen anak di Indonesia masih membutuhkan intervensi gizi seimbang.
Ia menegaskan bahwa program MBG menjadi salah satu langkah strategis untuk menjawab tantangan tersebut. Hingga kini, puluhan juta anak disebut telah merasakan manfaatnya.
Di tengah perdebatan publik, kisah sederhana dari seorang ibu pekerja rumah tangga ini menjadi pengingat bahwa di balik angka dan kebijakan, ada realitas kehidupan yang benar-benar berubah—dimulai dari satu hal mendasar: kepastian untuk makan setiap hari.

































































