Karanganyar – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. Salah satu yang merasakan manfaatnya adalah Muhammad Zainuddin Alwi, seorang santri yatim asal Bandung Sari, Purwodadi, yang kini bekerja di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Klodran, Kabupaten Karanganyar.
Sejak kecil, Alwi hidup dalam keterbatasan setelah kehilangan ayahnya. Ia kemudian menempuh pendidikan di pesantren dan memilih mengabdi dengan mengajar di pondok tempatnya belajar. Di tengah aktivitas tersebut, ia tetap berupaya mandiri untuk membantu kebutuhan keluarga.
“Latar belakang saya dari keluarga kurang mampu. Saya bekerja di SPPG Klodran, Kabupaten Karanganyar, dan di sini saya tinggal di pondok pesantren,” ujarnya, Senin (20/4/2026).
Rutinitas Alwi cukup padat. Ia mengajar selepas magrib hingga malam, lalu kembali mengajar setelah subuh. Pada pagi hari, ia juga membantu mengantar santri berangkat sekolah sebelum menjalani aktivitas lainnya.
Kesempatan baru datang pada awal 2025 saat dapur MBG di Klodran mulai beroperasi. Setelah mendapat izin dari kiai, Alwi mendaftar dan bergabung di divisi persiapan bahan makanan.
“Di sini saya berperan di divisi persiapan. Tugasnya menyiapkan bahan yang akan dimasak,” katanya.
Dalam perannya, Alwi menyiapkan bahan, memotong, hingga membantu proses pengolahan sederhana. Meski awalnya merasa canggung karena tidak memiliki latar belakang kuliner, ia perlahan mulai terbiasa.
“Awalnya masih kagok, potong-potong juga belum lancar. Sekarang alhamdulillah sudah agak lancar,” ujarnya.
Bagi Alwi, pekerjaan di dapur MBG bukan sekadar sumber penghasilan, tetapi juga kesempatan belajar keterampilan baru. Pendapatan yang diperolehnya sebagian ditabung dan sebagian lagi dikirim untuk membantu ibu serta adik-adiknya.
“Kalau hasil kerja dari sini saya buat nabung untuk masa depan. Sebagian untuk ibu saya dan adik-adik saya,” tuturnya.
Ia juga merasakan suasana kerja yang penuh kebersamaan. Menurutnya, lingkungan dapur MBG menghadirkan rasa kekeluargaan yang membuatnya semakin semangat bekerja.
“Senangnya di sini itu seperti kekeluargaan. Semua merangkul jadi satu,” kata Alwi.
Ke depan, Alwi berharap pengalaman tersebut menjadi bekal untuk mewujudkan cita-citanya membuka usaha kuliner. Ia juga mengapresiasi kesempatan yang diberikan melalui program MBG karena telah membantunya memiliki penghasilan sendiri.
Kisah Alwi menjadi gambaran bahwa program MBG tidak hanya meningkatkan pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga membuka lapangan kerja, meningkatkan keterampilan, serta memperkuat ekonomi keluarga, khususnya bagi generasi muda.

































































